 |
| Add caption |
Kali ini saya akan mencoba untuk berbagi
Contoh Skenario Film Indonesia Perahu Kertas Karya dewi dee Lestari sang pengarang novelnya sendiri
Untuk versi Ebook Downloadnya silahkan undah di Grup Facebook
DISINI
PERAHU KERTAS
A screenplay by
DEWI LESTARI
Based on the novel "Perahu Kertas" by
Dewi Lestari
FADE IN.
EXT. RANCA BUAYA ‐ SUNSET:
HARI INI. Sebuah perahu melaju membelah laut. Diantar seorang nelayan, perempuan
bernama KUGY duduk sambil menggenggam PERAHU KERTAS.
INTERCHANGE WITH
EXT. PANTAI 1 LAIN ‐ SUNSET: 1
22 TAHUN YANG LALU. Kugy cilik berusia 6 tahun bersama abangnya, KAREL, 14 tahun.
KUGY CILIK
Kak, kalau kita pindah ke Jakarta, kirim surat ke Neptunusnya
gimana? Kan, nggak ada laut lagi.
KAREL
Tinggal cari aliran air. Semua aliran air pasti ke laut, Gy.
Kugy kecil memandangi PERAHU KERTAS di tangannya.
Tangan kanan Kugy dewasa menjulur ke luar, membelah air. Kita bisa melihat sisi
belakang dari sebuah CINCIN KAWIN di jarinya.
NELAYAN
Mau berhenti di mana, Neng?
Kugy kecil berlari memecah ombak, mengacungkan perahu kertas di tangannya.
Kugy dewasa tersenyum. Penuh perasaan, ia memejamkan mata. Dengan kedua jarinya
ia membentuk semacam dua cabang antena di kepala.
Kugy kecil berlari hingga air mencapai lutut. Ia lalu berhenti dan melarung perahu
kertasnya.
KUGY CiLIk
Neptunus! Aku ke Jakarta dulu, yaaa!
DISSOLVE TO:
2 INT. KALI ‐ JKT ‐ DAY: 2
10 TAHUN KEMUDIAN. PERAHU KERTAS dilarung oleh KUGY, 18 tahun. Ia lalu berlari,
menyandang RANSEL BERINISIAL “K”, mukanya cerah.
KUGY (V.O.)
“Lapor, Neptunus! Aku sibuk ngurus pindahan. Sebentar
lagi aku jadi anak kuliahan, Nus. Dari Bandung, perahu
kertasku nanti akan meluncur.”
CUT TO:
3 INT. KAMAR KUGY ‐ JKT ‐ DAY 3
Tampak KOLEKSI BUKU Kugy yang padat, PIAGAM PENGHARGAAN LOMBA MENULIS,
POSTER “CULTURE CLUB”, KOLEKSI MUSIK 80’s. Kugy, memakai earphone, mengepak
barangnya.
KUGY (V.O)
“Noni udah survei, katanya deket tempat kosku ada kali.
Jadi, perahu kertas kita aman, Nus. Semua juga beres
kalau sama Noni, sih. Nguruk tanah jadi danau dia juga
bisa kayaknya.”
Kugy mengambil TIGA PIGURA; FOTO KUGY & NONI WAKTU KECIL, FOTO KUGY
SEKELUARGA, dan FOTO KUGY & PACARNYA, mengepaknya ke dalam tas.
SMASH CUT TO:
4 INT. KAMAR KOS KUGY ‐ BANDUNG ‐ DAY 4
NONI, sahabat Kugy, merapikan KAMAR KOS KUGY sambil bertelepon.
NONI
Gy, jangan lupa fotokopi STTB! ... Jadi gue daftarin
rantangan, nggak? ... Seprai mau yang mana? Yang polos
atau Kura‐kura Ninja?
SMASH CUT TO:
5 I/E. FLASHING SCENES 5
KUGY (V.O)
“Apalagi kita punya Eko. Yang tugas utamanya adalah
sopir.”
Dalam MOBIL FIAT 124S yang dikemudikan oleh pacarnya Noni bernama EKO, Kugy dan
Noni tiba dengan SEABREK BARANG.
KUGY (V.O) (CONT’D)
“Merangkap tukang angkut.”
Eko memikul banyak barang sekaligus.
2.
KUGY (V.O) (CONT’D)
“Dan tugas tambahannya adalah jadi pacar Noni.”
Eko sibuk mengepas letak barang sesuai instruksi NONI.
KUGY (CONT’D)
“Oh, kenalin juga teman baru kita, Nus. Fuad. Mobil Fiatnya
Eko yang bikin kita selalu fit dan bugar.”
Noni di kemudi, Eko dan Kugy dorong FUAD yang mogok.
DISSOLVE TO:
InT. 6 KAMAR KOS KUGY ‐ BANDUNG ‐ AFTERNOON 6
Pintu mendadak terbuka. Tampak Kugy meringkuk nyenyak.
NONI
Gy! Yuk! Kita ke stasiun!
KUGY
(setengah sadar)
Jangan, Non. Gue mau kuliah di Bandung aja ...
NONI
Hei, sadar! Kita kan harus jemput sepupunya Eko, yang
dari Belanda itu.
KUGY
Kok, dari Belanda nyampenya ke stasiun kereta?
NONI
Pake baju yang mana? Gue siapin. Yuk! Hap, hap, hap.
CUT TO:
7 I/E. STASIUN KA ‐ BANDUNG ‐ LATER 7
Noni memegang CARIKAN KERTAS ala kadar dengan tulisan tipis “KEENAN”. Kugy,
masih dalam baju tidurnya, memasang dua jari di atas kepalanya seperti antena.
EKO
Dandanan lo masih nggak cukup ya buat narik perhatian?
KUGY
Ini namanya Radar Neptunus. Bisa ngelacak frekuensi
khusus.
3.
NONI
Kamu sih, Ko. Udah tahu terakhir ketemu sepupumu itu
waktu SD, nggak inget tampangnya sekarang kayak apa,
eeh, nggak kepikirrr bawa papan nama. Cakep.
KUGY
Okeh. Saatnya bertugas. Dengan kekuatan Neptunus ...
Kugy tahu‐tahu melangkah ke kerumunan orang dengan mata terpejam. Eko panik
mengikuti. Tak jauh dari situ, KEENAN, melihat Kugy berjalan mendekatinya dengan
pose aneh. Mata Kugy membuka. Keenan tersenyum. Tampan dan menawan. Kugy
terpana.
EKO
Keenan?
KEENAN
Eko?
Eko dan Keenan tertawa dan berpelukan. Kugy bengong memandangi “antena”‐nya.
CUT TO:
EXT. STASIUN 8 ‐ BANDUNG ‐ LATER 8
Diguyur hujan, Kugy, Keenan, dan Eko mendorong Fuad keluar dari stasiun.
DISSOLVE tO:
9 INT. KAMAR KOS KUGY ‐ BANDUNG ‐ NIGHT 9
Kugy mengetik di laptop sambil mengeringkan rambut. Keenan muncul di pintu yang
membuka, juga dengan handuk kecil dan rambut basah.
KEENAN
Boleh ikutan nunggu? Eko masih ganti baju.
KUGY
Boleh, dong. Selamat datang di kerajaanku!
Keenan melihat‐lihat KOLEKSI BUKU, TEMPELAN dan HIASAN kanak‐kanak di dinding.
Kamar Kugy seperti dinding kelas TK.
KEENAN
Kata Eko, kamu suka nulis, ya? Makanya masuk Sastra?
KUGY
Aku suka nulis dongeng. Nggak mungkin Fakultas
Peternakan, kan? Yah, Sastralah yang paling mendekati.
4.
(MORE)
Jadi sarjana dulu, nulis buat orang gede, punya kerjaan,
mapan, baru deh, nulis dongeng beneran.
KEENAN
So, kamu berputar jadi sesuatu yang bukan diri kamu dulu,
baru balik lagi jadi diri kamu yang asli? Gitu?
KUGY
Aku nggak tahu selama ini kamu tinggal di gua mana, tapi
penulis dongeng itu bukan cita‐cita realistis. Apalagi di
sini. Segelintir yang bisa makan dari nulis buku tok. Nulis
itu biasanya cuma jadi sampingan.
KEENAN
Ini semua ... jadinya cuma buat sampingan?
Kugy menatap Keenan tajam.
KEENAN (CONT’D)
Sori. Saya nggak ... mmm ... saya ke depan dulu, ya.
KUGY
Bentar. Aku mau minjemin kamu sesuatu.
Dari laci meja belajar, Kugy mengeluarkan BUNDEL. Terbaca judul: “KUMPULAN
DONGENG DARI PETI KARAM ‐ KUGY KARMACHAMALEON”
KUGY (CONT’D)
Abangku, Karel, dulu pernah ngasih aku peti antik. Dia
bilang, itu peti dari kapal karam yang, katanya, dulu isinya
gulungan dongeng. Aku nulis bertahun‐tahun biar peti itu
punya isi lagi. Ini hasilnya. Baca, ya.
KEENAN
Wow. Makasih ya, Gy ...
KUGY
Baru pas udah segede gini aku tahu, peti itu dibeli Karel di
pasar barang antik, di Jalan Surabaya. Kapal karam,
gulungan dongeng, itu semua fantasi. Pada akhirnya kita
bisa bedain, mana yang realistis, mana yang dongeng.
KEENAN
Yang orang bilang realistis belum tentu sama dengan
yang kita percaya. Pada akhirnya kita tahu, kok. Mana diri
kita yang sejati, mana yang bukan. Dan mana yang
akhirnya kita mau jalanin.
Kugy dan Keenan saling menatap. Penuh makna.
5.
KUGY (CONT'D)
KEENAN (CONT’D)
Nama panjang kamu Karmachamaleon?
KUGY
Itu juga “dongeng”. Culture Club.
(nyanyi lirih)
Karma‐karma ...
KUGY & KEENAN
... karma‐karma‐karma chameleon.
KUGY
Kamu aneh, kok bisa tahu “Karma Chameleon”.
KEENAN
Kamu yang aneh. Tahun segini masangnya poster Culture
Club.
Keenan melirik POSTER CULTURE CLUB yang berdampingan dengan POSTER KURAKURA
NINJA.
KUGY
Kayaknya kamu cocok deh jadi Agen Neptunus.
KEENAN
Neptunus Dewa Laut? Agen‐‐maksudnya?
KUGY
Gini. Dari kecil aku udah direkrut jadi agen rahasia
Neptunus untuk ngelaporin aktivitas manusia di Bumi.
Eko dan Noni tahu‐tahu muncul di pintu.
EKO
Bubar, bubar! Jangan terjerumus, Nan! Yuk, kita jalan aja.
NONI
Gawat. Jangan sampai lo ikut ngelipetin perahu kertas
buat dihanyutin ke laut ya, Nan. Itu kerjaan Kugy dari dulu.
KUGY
Emang gitu caranya kita laporan ke Neptunus. Asyik, lho.
Nanti kita dapat radar khusus. Bisa melacak frekuensi
sesama agen ...
Keenan kelihatan tertarik. Sambil terus mengobrol, mereka berempat berjalan keluar.
DISSOLVE TO:
6.
INT. KAMAR KOS 10 KEENAN ‐ BANDUNG ‐ NIGHT 10
Di meja belajarnya, Keenan membolak‐balik BUNDEL DONGENG Kugy. Ia lalu
mengambil KERTAS, mulai MENGGAMBAR.
CUT TO:
11 EXT. KAMAR KOS KEENAN ‐ BANDUNG ‐ DAWN 11
KOKOK AYAM menandakan sudah Subuh. LAMPU kamar Keenan masih menyala.
Sejenak kemudian, lampu baru PADAM.
DISSOLVE TO:
12 EXT. WARUNG PEMADAM KELAPARAN ‐ BANDUNG ‐ DAY 12
Kugy, Keenan, Eko, dan Noni, duduk di satu meja.
KUGY
Aku nraktir kalian semua di sini dalam rangka ... TA‐DAAA!
Kugy membuka LEMBARAN MAJALAH WANITA yang memuat cerpennnya. Terbaca:
“GONDOLA CINTA DI VENEZIA” ‐ Kugy Alisa Nugroho. Ketiga temannya bertepuk
tangan dan memberi selamat.
KUGY (CONT’D)
Siang ini gue juga ingin mendeklarasikan kebersamaan
kita sebagai empat jagoan baru kota Bandung: “PURAPURA
NINJA”! Cheers!
Keenan mengangkat gelas paling cepat. Eko dan Noni pandang‐pandangan.
NONI
Nggak matching banget sih, Gy. Penulis “Gondola Cinta di
Venezia” bikin geng kok namanya Pura‐Pura Ninja.
EKO
Udahlah, Non. Yang waras ngalah. Yang penting makan
gratis.
Akhirnya mereka berempat bersulang. Keenan mengamati Kugy diam‐diam. Ada
sesuatu yang menarik di makhluk aneh itu.
CUT TO:
13 INT. KAMAR KOS KEENAN ‐ BANDUNG ‐ DAY 13
Pintu dibuka Keenan. Kugy melongo melihat LUKISAN‐LUKISAN Keenan di dinding.
7.
KUGY
Nan? Ngapain kamu kuliah Ekonomi? Harusnya kamu
ngelukis aja. Semua ini ... ya ampun, bagus banget.
KEENAN
Kalau keputusannya di saya sih pasti gitu. Tapi Papa saya
cuma ngizinin saya di Amsterdam sampai SMA, udah gitu
harus ambil Ekonomi di sini. Kalau saya di Amsterdam
terus, Papa takut saya keterusan jadi seniman.
KUGY
(menunjuk satu lukisan)
Aku suka ini.
KEENAN
Coba tebak, judulnya apa?
KUGY
Keahlianku itu Juru Dongeng, bukan ahli nujum.
KEENAN
Dirasa aja. Apa yang kamu rasain?
KUGY
Bentar. Pakai Radar Neptunus dulu.
Kugy memasang dua jarinya di atas kepala seperti antena.
KUGY (CONT’D)
Rasanya ... bebas.
Keenan membalik lukisannya. Terlihat tulisan “FREEDOM”.
KEENAN
Canggih radarnya. Mau satu, dong.
Kugy mengambil tangan Keenan, membentuk jemarinya jadi antena.
KUGY
Keenan Klapertaartholland, atas nama Kerajaan Neptunus,
kulantik kamu jadi agen rahasia. Ini tanda resminya.
Jangan bilang siapa‐siapa, ya. Ini kode antar agen aja.
Keenan menerima EMBLEM HURUF “K”. Mereka tertawa.
KEENAN
Sebetulnya saya ngajak kamu ke sini karena saya pengin
ngembaliin bundel kamu. Dan saya juga punya surprise.
Keenan menyerahkan BUNDEL Kugy dan sebuah BUKU SKETSA. Kugy membukanya dan
terperangah. Terlihat SKETSA PENSIL tokoh‐tokoh dongeng yang indah.
8.
KEENAN (CONT’D)
Ini Pangeran Lobak... Peri Seledri ... Wortelina ... Penyihir
Nyit Kunyit ... Hopa‐hopi ...
SETETES AIR jatuh di atas SKETSA. Keenan berhenti bicara, mendongak. Kugy tertawa
malu, pipinya berlinang air mata.
KUGY
Sori. Cengeng, nih. Seumur hidup dongengku belum
pernah dibikinin ilustrasi. Boleh kupinjam? Please?
KEENAN
Buat kamu, kok.
KUGY
Makasih banget, ya. Aku juga ngerti sekarang. Ternyata
kamu juga lagi muter. Sama kayak aku. Moga‐moga kita
cepat balik jadi diri kita lagi, ya.
DISSOLVE TO:
INT. KAMAR KOS KUGY 14 ‐ BANDUNG ‐ NIGHT 14
Kugy merombak BUNDEL DONGENGNYA, menggunting bagian teksnya. Ia lalu
mengguntingi SKETSA KEENAN, kemudian menempel dan menggabungkan keduanya
menjadi SCRAPBOOK.
KUGY (V.O.)
“Hari ini aku bermimpi. Aku bermimpi menuliskan buku
dongeng pertamaku. Sejak kamu membuatkan gambargambar
ini, aku merasa mimpiku semakin dekat ... “
DISSOLVE TO:
15 INT. KAMAR KOS KUGY ‐ BANDUNG ‐ DAWN 15
Terdengar kokok ayam pertanda pagi. Scrapbook‐nya yang sudah selesai. Kugy
mengakhiri SURATNYA dengan TULISAN: “Selamat Ulang Tahun.”
DISSOLVE TO:
16 INT. BANDUNG INDAH PLAZA ‐ BANDUNG ‐ NIGHT 16
Eko, Noni, dan Keenan berjalan menuju bioskop. Keenan menyandang ranselnya yang
kini sudah beremblem “K”.
KEENAN
Kok, tumben Kugy nggak ikut nonton?
9.
NONI
Semalem dia katanya begadang, Nan. Terus, hari ini kan
Kugy kedatangan tamu agung.
Pandangan Keenan tahu‐tahu tertumbuk di jendela restoran. Ada ransel lain
beremblem “K”.
KEENAN
Eh! Itu Kugy!
Tampak Kugy dan pacarnya, OJOS, sedang makan malam. Mereka kelihatan mesra.
EKO
Nah, itu tamu agungnya. Udah, jangan diganggu. Jarangjarang
Si Kugy bisa naik tingkat dari Pemadam Kelaparan.
KEENAN
Itu ... pacarnya?
NONI
Yep. Joshua ...
EKO
Ojos.
NONI
Joshua, dirusak sama Kugy jadi “Ojos”, cowoknya dari
SMA. Ganteng, ya? Normal lagi otaknya.
EKO
Alias bo‐ring.
NONI
Besok kita semua datang kok ke tempat lo, Nan. Anggota
geng ada yang ultah masa nggak kita samperin.
EKO
Dan, siap‐siap aja Pura‐Pura Ninja berubah formasi.
Noni dan Eko saling memberi kode. Kelihatan mereka punya rencana. Keenan tak hirau.
Pikirannya di tempat lain. Dan ia tak bisa menyembunyikan mukanya yang kecewa.
CUT TO:
INT. RUMAH KOS KUGY, KAMAR & KORIDOR 17 ‐ BANDUNG ‐ NIGHT 17
Kugy mematut diri di kaca sambil mendekap kadonya. Penampilannya lebih rapi dari
biasa.
EKO (O.S.)
Hoi! Mau ke kondangan?
Kugy kaget. Ia sembunyikan kadonya di balik punggung. Salah tingkah.
10.
KUGY
Baju gue yang lain belum pada kering. K‐kerapian, ya?
EKO
Standar rapinya manusia normal atau standar elo?
NONI
Yuk! Rombongan udah lengkap, nih.
Kugy bergegas memasukkan kadonya ke ransel, lalu menyusul keluar. Seorang cewek
cantik semampai dengan penampilan trendi berdiri di sebelah Noni, namanya WANDA.
NONI (CONT’D)
Kenalin sepupuku, Wanda.
WANDA
Hai. Kugy, ya? I’m Wanda. Noni sering cerita tentang
kamu.
KUGY
Oh. Hai. Noni juga‐‐belum cerita apa‐apa tentang kamu.
NONI
Wanda ini dari kecil di Australia, Gy. Sekarang pas lagi
cuti kuliah aja. Lagi magang kerja di Jakarta.
Noni berusaha memberi kode pada Kugy. Kugy malah bingung.
EKO
(dibatukkan keras)
Mak comblang!
Kugy kelihatan tambah bingung.
WANDA
Can we all go? Like ... NOW?
CUT TO:
INT. KAMAR KOS KEENAN 18 ‐ BANDUNG ‐ LATER 18
Keenan membuka pintu kamarnya.
NONI
Happy birthday, Meener Keenan! Kenalin, ini ...
Wanda tahu‐tahu menyerobot masuk. Matanya terpusat pada lukisan‐lukisan Keenan.
NONI (CONT’D)
... Wanda. Sepupuku dari Melbourne.
11.
Keenan memandangi Noni dan Eko. Minta penjelasan. Kugy masuk malu‐malu.
KEENAN
(canggung)
Hai, Gy.
KUGY
Hai, Nan. Met ulang ta ...
WANDA
Hello, I’m Wanda. Sori tadi nggak sopan, masuk gitu aja. I
just have an eye for paintings. You’re very, very good. Style
kamu unik. Sedikit klasik, cenderung konvensional, tapi
ada sentuhan kontemporer yang pas. It has the right,
sweet, balance. Oops, sorry ... here you go.
Wanda mengeluarkan kartu nama dari tasnya. Keenan terlongo.
KEENAN
Kamu kerja di Galeri Warsita?
WANDA
Papaku owner‐nya Warsita. Aku cuma bantu‐bantu, jadi
kurator sekali‐sekali. Aku ambil major Art History. Art is
my passion.
KEENAN
Wow. Impian semua pelukis bisa pameran di Warsita.
WANDA
Udah pernah pameran?
KEENAN
Belum.
WANDA
Seriously? Kalau aku jadi kamu, aku udah pasti cari uang
dari ngelukis. You’re very talented. And happy birthday, by
the way.
Keenan tidak bisa menahan senyum senangnya. Eko dan Noni saling lirik dan high‐five
diam‐diam. Kugy hanya bisa mendekap ransel tempat kadonya disimpan.
DISSOLVE TO:
INT. KAMAR KOS 19 KUGY ‐ BANDUNG ‐ LATER 19
Kugy duduk di ujung tempat tidur, menggenggam kadonya. Tatapannya kosong. Ia
melirik PIGURA berisi fotonya dan Ojos.
12.
KUGY
Kugy bego. Udah jelas‐jelas nggak mungkin.
Kugy menarik keluar DUS BARANG BEKAS dari kolong tempat tidur. Lalu memasukkan
kadonya ke sana. Dus didorong lagi ke kolong.
CUT TO:
EXT. SAUNG KELAS KUGY 20 ‐ SAKOLA ALIT ‐ MORNING 20
Di daerah ladang di Bojong Koneng, Kugy dan temannya AMI, berdiri menghadapi anakanak
kampung yang berkumpul di sebuah balai. Suasana riuh.
AMI
Makasih udah mau ikut jadi sukarelawan ya, Gi. Kita benerbener
kurang orang.
KUGY
Iya, Mi. Aku juga memang lagi cari kegiatan, kok.
Kepala Kugy tahu‐tahu tak sengaja tersambit bola kertas. Anak‐anak itu tertawa. Kugy
meringis. Mulai meragukan keputusannya.
DISSOLVE TO:
21 EXT. SAUNG KELAS KUGY ‐ SAKOLA ALIT ‐ DAY 21
KUGY
Hari ini, Bu Ugi mau ngedongeng. Ini dongeng spesial.
Belum pernah ada di dunia. Dongengnya tentang:
PASUKAN ALIT dari KAMPUNG BOJONG KONENG.
Murid‐muridnya tertawa. Seorang murid bernama PILIK tiba‐tiba berdiri.
PILIK
Saya nu mimpin, Bu!
KUGY
Boleh. Tapi tanya dulu sama pasukannya, mau nggak
dipimpin sama Pilik? Coba, yang setuju angkat tangan!
Semua murid mengacungkan tangan. Pilik tersenyum senang. Kugy mengambil
penggaris dan meletakkan ujungnya di bahu Pilik.
KUGY (CONT’D)
Pilik. Dengan ini, saya lantik kamu jadi
Jenderal Pilik. Pimpinan Pasukan Alit.
Pilik
Siap, Bu Ugi!
13.
KUGY (CONT’D)
Kamu harus bisa memimpin Pasukan Alit jadi pintar baca,
melindungi kampung, dan menjaga kebersihan. Siap,
Jenderal?
PILIK
Saya siap!
KUGY
Kalau kalian semua sudah pintar baca, Bu Ugi janji, semua
dapat buku dongeng Pasukan Alit satu‐satu. Nanti kasih
lihat ke Ibu‐Bapak di rumah. Mau?
MURID‐MURID
Mauuu!
KUGY
Sekarang, dengar dulu dongeng Bu Ugi. Habis itu kita
main bola!
CUT TO:
EXT. LADANG 22 ‐ KAMPUNG SAKOLA ALIT ‐ DAY 22
Kugy bermain kejar‐kejaran dengan murid‐muridnya di ladang.
KUGY (V.O.)
“Lapor, Nus. Aku menulis dongeng baru. Judulnya Jenderal
Pilik dan Pasukan Alit. Gara‐gara itu, murid‐muridku
makin semangat belajar baca.
Lalu tampak Kugy menulis cerita di sebuah buku tulis, sambil sesekali menengok ke
arah murid‐muridnya yang bermain.
KUGY (V.O.)
“Dan cuma ini yang bisa menghiburku.”
CUT TO:
23 I/E. KOS KEENAN ‐ BANDUNG ‐ AFTERNOON 23
Membawa travel bag, Keenan keluar. Di luar, Fuad sudah terparkir.
EKO
Man, sori gue nggak ikut mudik ke Jakarta. Mesti nemenin
Noni dulu. Tapi gue tetep anterin lo ke stasiun.
KEENAN
Tiket lo gimana, dong?
14.
EKO
Jadinya tukeran sama dia.
Kepala Eko menunjuk ke jok belakang. Keenan menelan ludah. Kugy melambai kecil.
NONI
Ngomong‐ngomong, selamat ya, Nan. IPK‐nya paling
tinggi satu angkatan. Cieee ...
CUT TO:
24 I/E. FLASHING SCENES 24
Di dalam kereta api, Kugy dan Keenan duduk bersebelahan. Keenan tertidur. Kugy
kelihatan salah tingkah.
DISSOLVE TO:
25 I/E. KERETA API ‐ STASIUN CITATAH ‐ SUNSET 25
Keenan terbangun. Bangku di sebelahnya kosong. Kereta tidak bergerak. Keenan turun
menghampiri PETUGAS.
KEENAN
Ada apa, Pak?
PETUGAS
Ada kereta anjlok dari arah Jakarta, Cep. Sejam lagi baru
bisa jalan.
CUT TO:
26 EXT. STASIUN CITATAH ‐ LATER 26
Sambil menunduk Keenan berjalan meniti rel. Ia terpaku ketika melihat Kugy berjongkok
di rel, menyandang kamera.
KUGY
Latihan sirkus?
KEENAN
Bilang‐bilang dong kalau mau motret.
KUGY
Ge‐er. Kamu tuh yang segitu kehilangannya sampai
ngikutin ke sini.
15.
KEENAN
Niatnya nggak gitu, kok. Cuma Radar Neptunus aja tadi
lupa dimatiin.
Mereka tertawa sambil berjalan menyusuri rel.
KEENAN (CONT’D)
Sibuk ya, Gy? Jarang lihat di kampus.
KUGY
Aku lagi bantuin Klub Kakak Asuh di kampus. Kita bikin
sekolah darurat, ngajar anak‐anak kampung. Sakola Alit
namanya.
KEENAN
Boleh berkunjung ke sana kapan‐kapan?
KUGY
Wah. Anak‐anak pasti senang banget ketemu jagoan
gambar. Habis, ibu gurunya payah. Bikin cakar ayam aja
hancur. Bisanya cuma ngedongeng.
Langkah Keenan tiba‐tiba terhenti.
KEENAN
Saya boleh jujur, Gy?
(jeda)
Saya nggak suka cerpen kamu. Kamu nggak jadi diri kamu
sendiri. Kayak baca cerita orang lain. Seenggaknya bukan
Kugy Si Juru Dongeng yang saya tahu. Sori.
Kugy berusaha menata emosinya. Tapi akhirnya ia tersenyum.
KUGY
Aku bikin cerpen itu memang ngejar honor doang. Nggak
pakai hati. Norak kok ceritanya, aku tahu. Tapi katanya
yang gitu banyak yang suka. Rasanya dengar komentar
kamu kayak digaplok, tapi kayaknya memang itu yang
kubutuhin. Makasih udah jujur, ya.
KEENAN
Belum 24 jam waktu itu saya kenal kamu, tapi langsung
begadang bikin ilustrasi gara‐gara baca dongeng kamu.
Segitu kuatnya, Gy. Nggak tahu kapan, tapi saya yakin
kamu bakal jadi penulis dongeng terkenal.
Kugy memejamkan mata, seolah berdoa. Mulai gerimis.
KUGY
Gerimis, menulis, melukis. Satu saat kita bisa jadi diri kita
sendiri.
16.
Kugy dan Keenan saling menatap. Mereka telah jatuh cinta. Tapi tak ada yang bisa
terucap.
DISSOLVE TO:
EXT. STASIUN GAMBIR 27 ‐ JAKARTA ‐ NIGHT 27
Kugy berjalan dirangkul Ojos yang datang menjemput. Keenan memandangi punggung
keduanya. Getir.
CUT TO:
28 INT. MEJA MAKAN, RUMAH KEENAN ‐ JAKARTA ‐ NIGHT 28
Keenan dan keluarganya makan malam bersama. Ada ibunya: LENA, ayahnya: ADRI, dan
adiknya yang berusia 13 tahun, JEROEN. Suasana terlihat ceria.
ADRI
Kubilang juga apa, pelajaran gitu nggak ada apa‐apanya
untuk otak dia. Hebat kamu, Nan. Kalau kamu ada
kebutuhan apa pun, bilang aja. Papa pasti support.
KEENAN
Sebenarnya, saya memang kepengin sesuatu, Pa.
ADRI
Buku? Laptop? Mobil jangan dulu, ya.
KEENAN
Liburan ini saya pengin ke Ubud. Belajar melukis sama Pak
Wayan, sahabatnya Mama yang pelukis itu. Sejak di
Amsterdam kami sudah korespondensi ...
ADRI
Aku tahu siapa Wayan.
KEENAN
Saya pengin bisa extend liburan satu minggu, Pa. Karena
proses belajar begitu nggak bisa sebentar ...
ADRI
Baru semester satu kamu udah berani minta bolos? Kamu
itu calon sarjana Ekonomi. Bukan pelukis!
Adri berdiri, meninggalkan meja makan. Suasana berubah murung.
29 INT. RUMAH KEENAN ‐ JAKARTA ‐ NIGHT 29
Lena tampak gugup berbicara dengan seseorang di telepon.
17.
LENA
Halo? Wayan?
INTERCHANGE WITH
30 INT. RUMAH WAYAN ‐ UBUD ‐ NIGHT 30
Seorang pria Bali berbadan tegap, usianya 45 tahun‐an, bernama WAYAN, menjawab
Lena dengan kaku.
WAYAN
Iya, Lena?
LENA
Keenan, katanya, liburan nanti pengin seminggu lebih
lama di tempatmu. Aku cuma mau memastikan kamu
nggak keberatan. Maaf ya, kalau dia merepotkan ...
WAYAN
Bagiku, Keenan itu keluarga. Dia bisa tinggal di sini kapan
pun. Selama yang dia mau.
LENA
Aku dan Adri sangat berterima kasih.
Wayan terlihat rikuh.
CUT TO:
31 I/E. FLASHING SCENES 31
Keenan berlibur di UBUD, melukis di BALE di taman rumah Pak Wayan. Seorang
perempuan remaja tampak mengamati Keenan diam‐diam, kelak kita akan mengetahui
namanya LUHDE.
Di studio pahat, Keenan menontoni proses memahat.
32 INT. STUDIO PAHAT, RUMAH WAYAN ‐ UBUD ‐ DAY 32
Keenan serius memahat sebuah ukiran kayu.
WAYAN
Tanganku cuma tangan kuas. Bukan tangan pahat. Kamu
bisa dua‐duanya. Hebat.
KEENAN
Iseng doang, Pak. Gara‐gara ngelihatin Banyu mahat, jadi
penasaran.
18.
Wayan tersadar ada yang mengamati mereka.
WAYAN
Luhde! Hei, sini kamu! Kok, di situ? Kayak mata‐mata saja.
Luhde terkejut, dan malah pergi menghilang.
WAYAN (CONT’D)
Maaf ya, Nan. Ponakanku itu memang pemalu. Apalagi
kalau baru kenal. Padahal aslinya cerewet dia.
KEENAN
Nggak pa‐pa, Pak. Mungkin saya yang serem.
Keenan lalu terus memahat. Ukiran itu berbentuk HATI.
INT. RUANG KELUARGA KUGY 33 ‐ JAKARTA ‐ NIGHT 33
Kugy dan Ojos malam mingguan. Keduanya tiduran di karpet. Kugy baca buku JRR.
Tolkien, Ojos baca majalah otomotif.
OJOS
Kok, teman kamu yang Keenan itu punya emblem huruf
“K” yang samaan sama kamu? Sengaja, apa?
KUGY
Aku yang kasih. Kan, dia kulantik jadi Agen Neptunus.
OJOS
What? Dan dia mau?
KUGY
Ya, maulah. Siapa yang nggak mau?
OJOS
Kamu kok nggak pernah nawarin aku?
KUGY
Emang kamu mau?
OJOS
Ng ... nggak.
Keduanya balik ke bacaan masing‐masing. Tapi pikiran Kugy melayang ke tempat lain.
INTERCHANGE WITH
19.
INT. STUDIO PAHAT, RUMAH 34 WAYAN ‐ UBUD ‐ NIGHT 34
Keenan merampungkan pahatannya. Kayu berbentuk hati dengan motif gelombang air
dengan inisial: K & K.
DISSOLVE TO:
35 INT. GALERI WARSITA ‐ JAKARTA ‐ DAY: 35
Pemilik galeri, HANS, tengah berdiskusi dengan partner bisnisnya, seorang perempuan
sebayanya bernama RANI. Pintu diketuk, dan masuklah anak perempuannya, Wanda.
HANS
Morning, Wan. Papa sama Tante Rani lagi review katalog
yang kamu susun. This new, young, guy‐‐siapa namanya‐‐
Keenan? Are you really sure?
WANDA
He’s one of the most talented artists I’ve ever seen.
HANS
Pelukis berbakat banyak. Tapi yang punya kematangan?
Itu yang langka. Keenan ini, menurutku, belum sampai
sana. So, I dunno. Gimana, Ran?
RANI
Aku ngerti poin kamu. Dia ini berlian mentah. Bagus, tapi
belum ‘cring’. Untuk masukin dia ke eksibisi tahun ini ...
Pandangan Rani tertumbuk pada FOTO Keenan yang terlampir di daftar katalog. Rani
melirik Wanda. Seketika ia bisa membaca yang tersirat.
RANI (CONT’D)
Aku pikir nggak ada salahnya kita coba. Udah setahun
katalog kita isinya itu‐itu lagi.
HANS
Aku tetap nggak yakin. Tapi, ya, sudah. Dua lawan satu.
Dummy katalog siap minggu ini ya, Wan?
WANDA
YES! Thank you, Tante Rani, Papa!
Hans beranjak, selewat mengetuk foto Keenan dengan jarinya.
HANS
Instingku jarang salah. Dua‐tiga tahun lagi anak ini baru
matang. Sekarang? Belum saatnya.
WANDA
I’ll prove you wrong!
20.
Sebelum ikut pergi, Rani berbisik pada Wanda.
RANI
Tante juga pernah muda. He’s cute, by the way.
CUT TO:
INT. GALERI WARSITA 36 ‐ JAKARTA ‐ NIGHT 36
Malam pembukaan eksibisi “The Pallette of Warsita”. EMPAT LUKISAN KEENAN
terpajang di panel. Wanda berdiri di sebelahnya Keenan.
KEENAN
Rasanya masih kayak mimpi.
WANDA
Lukisan kamu memang layak ada di sini.
Muncul Eko dan Noni. Keduanya sama‐sama semringah.
EKO
Gue udah ngelihat semua lukisan di sini. Nggak ada yang
sekeren lo punya, Nan.
KEENAN
Thanks ya, guys, udah nyempetin datang.
Adri, Lena, dan Jeroen, datang bergabung. Lena langsung memeluk Keenan.
LENA
(Bhs Belanda, subtitled)
Mama bangga sekali sama kamu, Sayang.
ADRI
Masih ada yang perlu kita lihat? Acaranya apa lagi sih?
KEENAN
Kalau Papa mau jalan duluan, nggak pa‐pa. Nanti biar
Mama pulang sama saya.
ADRI
Oke. Jeroen?
JEROEN
Mmm ... saya ikut Mama aja nanti, Pa.
Adri kelihatan tidak suka mendengarnya.
ADRI
Ya, udah. Sampai ketemu di rumah.
21.
Wajah Keenan langsung berbeban. Wanda pun langsung membaca situasi.
DISSOLVE TO:
EXT. TERAS 37 RUMAH KEENAN ‐ JAKARTA ‐ NIGHT 37
KEENAN
Makasih udah nganterin ya.
WANDA
Anytime. Nan, sori, I cannot help but wonder, Papa‐mu
nggak suka kamu ngelukis, ya?
KEENAN
Saya nggak pernah tahu kenapa. Mungkin dia berharap
saya bisa kayak dia, businessman, lebih pasti.
WANDA
Kamu sendiri... maunya apa?
KEENAN
Tadi, waktu lihat lukisanku di Warsita, perasaan itu ...
rasanya seumur hidup cuma itu yang pengin saya lakuin.
Kalau aja saya bisa mandiri dari ngelukis, mungkin Papa
berubah. Tapi, ya, gimana, kesempatannya belum ada.
Wanda termenung. Sepertinya ia mendapat ide.
CUT TO:
38 INT. GALERI WARSITA ‐ JAKARTA ‐ DAY 38
LUKISAN‐LUKISAN KEENAN diberi tanda: “SOLD”
CUT TO:
39 INT. KAMAR KOS KEENAN ‐ BANDUNG ‐ DAY 39
Keenan membuka pintu kamarnya yang diketoki dari luar. Ia kaget ketika melihat
Wanda yang datang.
KEENAN
Hei, Wan. Kok ... ?
WANDA
Hai, sori aku datang nggak bilang‐bilang dulu. I’m too
excited! Pengin kasih tahu langsung sama kamu.
22.
KEENAN
Tentang?
WANDA
Lukisan kamu. Terjual. Empat‐empatnya! Oh, gosh, I’m so
happy for youuu!
Tahu‐tahu Wanda memeluk Keenan saking senangnya. Keenan hanya terlongo. Antara
kaget, bahagia, tak percaya. Meski ragu, Keenan membalas pelukan Wanda.
DISSOLVE TO:
I/40 E. FLASHING SCENES: 40
KUGY (V.O.)
“Ada yang rasanya nggak pas lagi. Entah aku yang
berubah, lingkunganku yang berubah. Atau dua‐duanya.”
Kugy makan malam bersama Ojos. Ojos bersemangat bercerita sesuatu, Kugy berusaha
menanggapi, tapi muka bosannya sulit disembunyikan.
KUGY (V.O.)
“Segalanya berubah sekarang, Nus. Pura‐Pura Ninja nggak
kayak dulu lagi.”
Eko, Noni, Wanda, dan Keenan, nonton bioskop bersama. Tampak Wanda merapat
mesra pada Keenan. Keenan terlihat risih.
KUGY (V.O.)
“Hubunganku dengan Sakola Alit juga berubah. Mereka
bukan cuma murid, kadang mereka yang jadi guru.
Mengajarkanku banyak hal.”
Kugy bermain dengan murid‐murid Sakola Alit di ladang.
KUGY (V.O.)
“Hidup mereka pahit, tapi keceriaan mereka lebih manis
dari semua dongeng yang pernah kubaca. Merekalah
duniaku sekarang.”
Kugy melarung perahu kertas di sebuah selokan.
DISSOLVE TO:
41 INT. KAMAR WANDA ‐ JAKARTA ‐ NIGHT 41
Wanda sedang bersama dua sahabatnya: PASHA dan VIRNA. Virna menyalakan rokok,
menawarkannya pada Wanda.
23.
WANDA
Gue quit. Keenan nggak suka asap rokok.
VIRNA
(kaget hingga terbatuk)
ELO? QUIT?
PASHA
Oke. Udah cukup kita ngegosipin satu dunia. Sekarang kita
fokus sama elo, elo, dan elo! Udah sampai mana sepak
terjang lo dan Si Pelukis Ganteng itu? Pacaran? Dating?
Romantis? Brutal? Detail, please!
VIRNA
Apakah dia “seindah” lukisannya?
WANDA
Guys. We’re taking it slow, OK?
VIRNA
(terbatuk lagi)
ELO? SLOW?
WANDA
Keenan itu beda, nggak kayak cowok‐cowok lain, tauk.
PASHA
Ah. Puwhlease! Hello? Gue juga nggak kayak cowokcowok
lain kale! Oke, kemungkinan pertama: dia gay.
WANDA
He’s not gay!
PASHA
Darling, lo tuh Wanda! THE Wanda! Cowok normal itu
garuk‐garuk tanah ngegelepar hanya untuk dilirik sama
elo. Kalo kalian udah deket segini lama, dan tuh cowok
belon ngapa‐ngapain elo, beruang di Kutub Utara aja
langsung tau kalo dia SE‐KONG! Ya udah. Buat gue aja.
VIRNA
Gue punya teori lebih bagus. Keenan itu sadar dirinya
guanteng, dan lebih sadar lagi kalau lo tergila‐gila sama
dia. Tapi, yang dia paling nyadar? You, my dear Wanda,
adalah tiket masuknya ke galeri bokap lo. It’s all business.
PASHA
DAN ... dia teteup apa, anak‐anak?
VIRNA & PASHA
SE‐KONG!
24.
Virna dan Pasha terbahak‐bahak. Wanda memberengut. Percakapan itu berhasil
membuatnya khawatir.
CUT TO:
42 INT. KAMAR KOS KUGY ‐ BANDUNG ‐ DAY 42
NONI
Minggu depan kan pesta ultah gue, Gy. Apa pun yang
terjadi, gue nggak mau tau. Elo‐wajib‐datang!
KUGY
Astaga, Non. Segitunya sampai ngingetin doang lo harus
galak kayak Herder? Gue, gitu. Mana pernah nolak makanmakan?
NONI
Habis kan lo sekarang sering ngilang. Nggak pernah jalan
lagi sama gue, Eko, Keenan.
KUGY
Sori. Gue emang lagi sibuk di Sakola Alit.
NONI
Awassss ... pokoknya kalau lo nggak muncul. Gue mewek
ngacak‐ngacak Jakarta.
KUGY
Lho? Emang dirayainnya di Jakarta?
NONI
Kan ultah ke‐20, Gy. Spesial dikit, dong. Edisi ibu kota!
Gue pinjem taman belakang rumahnya Wanda yang
segede alaihim gambreng itu. Pokoknya seru! Anak‐anak
kampus juga semangat datang, sambil pada weekend di
Jakarta. Wanda kan party maker canggih.
Air muka Kugy seketika berubah. Tapi ia berusaha tetap kelihatan bersemangat.
KUGY
Gue pikir tadinya di Pemadam Kelaparan.
NONI
Selera lo tuh sengsara banget, sih. Gue jalan dulu ya, mau
meeting lagi sama Wanda.
Kugy melepas kepergian Noni dengan muka ceria. Tapi begitu Noni tidak ada, Kugy
kembali tampak berbeban.
CUT TO:
25.
INT. RUANG MAKAN 43 RUMAH KEENAN ‐ JAKARTA ‐ NIGHT 43
ADRI
Cuma gara‐gara segelintir lukisanmu laku, beraniberaninya
kamu minta berhenti kuliah? Setengah mati
Papa kerja biar kamu bisa dapat sekolah yang terbaik dari
kecil sampai sekarang! Bisa kamu ganti itu semua dengan
jual lukisan?
LENA
(Bhs Belanda, subtitled)
Adri, udahlah. Please, calm down.
KEENAN
Sampai kapan pun saya nggak bisa ganti semua yang Papa
kasih. Tapi, ini kesempatan saya. Saya paksain kuliah
Ekonomi kan cuma karena Papa minta.
(Bhs Belanda, subtitled)
Painting is my life. You know that, right?
ADRI
Kamu itu anak baru gede! Tahu apa kamu?
KEENAN
Cukup tahu kalau saya nggak bisa maksain diri kuliah lagi.
ADRI
Kalau kamu sampai berani mengundurkan diri dari
kampus ...
KEENAN
(Bhs Belanda, subtitled)
Maaf. Sudah telanjur saya lakukan. Sebelum saya
berangkat ke Jakarta.
LENA
Keenan! My God ...
Adri menatap Keenan nanar. Amarahnya menggelegak.
KEENAN
Saya nggak akan nyusahin Papa lagi. Saya akan biayai
hidup saya sendiri.
ADRI
Silakan pergi dari sini. Buktikan apa pun yang kamu mau.
Aku nggak akan bantu apa‐apa lagi. Pintu rumah ini
tertutup untuk kamu sampai kamu yang ngemis minta
tolong!
26.
LENA
(Bhs Belanda, subtitled)
Adri, you cannot say that. Keenan, please, stay here.
KEENAN
(Bhs Belanda, subtitled)
It’s OK, Mam. I can handle this.
LENA
(menangis, Bhs Belanda, subtitled)
It’s not OK! Will you both please stop this?
Adri langsung masuk kamar. Keenan beranjak pergi, membawa ranselnya. Jeroen, yang
sedari tadi hanya menguping, menghambur berusaha menahan kakaknya. Tapi Keenan
hanya tersenyum dan tetap pergi dari rumah.
CUT TO:
INT. EXT. TAMAN 44 RUMAH WANDA ‐ JAKARTA ‐ NIGHT 44
Pesta kebun perayaan HUT Noni. Suasana meriah, tapi Eko dan Noni gelisah.
WANDA
Cheer up, guys! ‘Napa sih tampang lo pada kusut semua?
NONI
Kugy kok belum muncul, ya? HP‐nya udah gue hubungin
nggak bisa‐bisa. Kan bentar lagi potong kue.
EKO
Non, jangan maksain segalanya harus perfect ya, ntar
kamu stres sendiri. Kalau Kugy sampai nggak datang,
acara harus tetep jalan.
WANDA
Bener! Makanya, gue udah nyiapin ini buat kita‐kita.
Wanda menunjukkan botol Dom Perignon yang terbungkus kertas. Eko dan Noni
menggeleng. Tak lama Keenan muncul, mukanya kusut.
NONI
Akhirnya! Nan, jangan bikin gue deg‐degan dong. Kamu
kan termasuk panitia! Kok, baru muncul?
KEENAN
Sori, tadi ada urusan dulu di rumah. Wan, bisa bicara
bentar?
EKO
Lo baik‐baik, Bro?
27.
Keenan hanya mengangguk. Ia lalu menarik Wanda menjauh.
WANDA
What’s up, Sweetie?
KEENAN
Saya berhenti kuliah, Wan. Barusan saya ngomong ke
orang tua saya. Papa marah besar.
WANDA
Oh, my God! Kamu serius berhenti? OK, not to worry. Aku
support kamu. A hundred percent. Aku bakal bikinin kamu
pameran. Aku bakal urus semuanya. Pokoknya kamu fokus
ngelukis, oke?
KEENAN
Nggak tahu apa jadinya kalau nggak ada kamu.
WANDA
Hey. Aku sayang kamu. I’ll do anything for you.
Wanda memeluknya, dan Keenan hanya bisa tersenyum kaku.
WANDA (CONT’D)
Now, let’s party!
CUT TO:
INT. KAMAR KOS KUGY 45 ‐ BANDUNG ‐ NIGHT 45
Kugy termenung. Ranselnya sudah dipak. Ia melirik jam dinding: 7.05 PM.
INTERCHANGE WITH
46 EXT. TAMAN RUMAH WANDA ‐ JAKARTA ‐ NIGHT 46
Noni meniup lilin. Semua tamu bertepuk tangan. Hanya pada Eko, Noni menunjukkan
wajah kecewanya. Ia memberikan sesuatu pada Eko. Pahit, Eko melirik medali di
genggamannya, tertulis: “KUGY ‐ Sahabat Terbaik & Terawet”.
Kugy melirik PIGURA berisi fotonya dan Noni. Lalu menundukkan kepala lemas.
KUGY
Sori, Non.
DISSOLVE TO:
28.
I/E. RUMAH WANDA 47 ‐ JAKARTA ‐ NIGHT 47
Botol Dom Perignon Wanda sudah kosong. Ia terhuyung dirangkul Keenan ke kamar.
WANDA
But I still wanna dance ...
KEENAN
Udah nggak ada siapa‐siapa, Wanda. Jangan sampai Papamu
lihat kamu gini. Ke kamar aja, ya.
WANDA
I don’t care. I’m a big girl.
Mereka sampai di kamar Wanda.
KEENAN
Saya pulang ya, Wan.
WANDA
Pulang ke mana? Kamu kan nggak bisa pulang ke
rumahmu. Di sini aja.
KEENAN
Nggak, Wanda. This is not right. Kamu lagi nggak sober.
Saya juga harus balik ke Bandung malam ini.
Wanda serta merta menutup pintu, lalu menjatuhkan tubuhnya ke pelukan Keenan.
WANDA
Keenan. Aku kan pacar kamu. You can do anything you
want, and it’s O‐KAY.
Keenan melepas rangkulan Wanda hati‐hati.
KEENAN
Seinget saya, kita belum pernah sepakat pacaran. Mau
diambilin minum dulu?
WANDA
Ha? Apa maksud kamu kita nggak sepakat pacaran?
Memangnya masih musim nyatain? Kita kan udah tahu
sama tahu? I love you. And I know you love me. Right?
KEENAN
Wanda, sekarang bukan saatnya bahas itu. Look, I’m so
sorry. Saya harus pergi dan kamu harus istirahat.
WANDA
Taik lo, Nan! Belagak suci, kampret! Gue nggak mabok aja
lo nggak pernah mau sama gue, nggak usah pake alasan
gue lagi nggak sober!
29.
(MORE)
Gue udah bela‐belain segalanya buat lo! But you never
cared about me! You never loved me! All you care about
are these stupid paintings!
Dengan kalap, Wanda menarik empat gulungan lukisan dari dalam lemari,
membuangnya ke lantai. Keenan terkesiap. Ia memeriksa gulungan tersebut.
KEENAN
Kenapa lukisanku ada di sini? Kamu bilang lukisanku dibeli
kolekt ... Wanda ... kamu ... ?
Keenan seketika sadar apa yang terjadi. Wanda juga tersadar apa yang baru saja ia
perbuat.
WANDA
Please, jangan marah. Aku cuma mau bantu kamu. Aku
sayang banget sama kamu. Please understand.
Wanda berusaha memeluk Keenan, tapi Keenan menghindar. Wanda mulai menangis
sesenggukan, sampai memeluk kaki Keenan. Keenan menepisnya, lalu memunguti
lukisan‐lukisannya.
WANDA (CONT’D)
Keenan, don’t leave. That was just stupid champagne
talking, OK? Aku tahu aku salah. Look, I will sell those
paintings anyway! Aku bisa bikinin kamu pameran!
Anything you want! I can give it you!
KEENAN
Kamu bisa beli lukisan saya, Wan. Tapi kamu nggak akan
pernah bisa membeli saya.
Keenan memanggul lukisan‐lukisannya, meninggalkan Wanda yang tersedu‐sedu.
DISSOLVE TO:
EXT. SAUNG KELAS KUGY ‐ SAKOLA 48 ALIT ‐ BANDUNG ‐ DAY 48
Kugy sedang melepas muridnya pulang saat ia tersadar Keenan berdiri dekat saung.
KUGY
Nan? Kok, bisa sampai sini?
KEENAN
Radar Neptunus.
KUGY
Secanggih itu ya radar kita? Sampai tahu jalur angkot,
ojek, jalan setapak?
30.
WANDA (CONT'D)
KEENAN
(tertawa)
Saya nanya ke Ical, yang ngajar bareng kamu.
KUGY
Ada misi penting apa, Rekan Agen?
KEENAN
Misi superpenting. Saya kehilangan kamu. Pengin dengar
kamu cerita. Apa aja.
Wajah Kugy berubah cerah. Ia punya segunung cerita tertunda untuk Keenan.
CUT TO:
49 EXT. DI BAWAH POHON ‐ SAKOLA ALIT ‐ BANDUNG ‐ DAY 49
KUGY
... Waktu itu aku bilang sama anak‐anak, mereka harus
belajar baca, supaya mereka nanti bisa baca sendiri
petualangan mereka. Sekarang, biar masih patah‐patah,
semua anak udah bisa baca giliran.
Kugy menunjukkan buku tulisnya pada Keenan.
KUGY (CONT’D)
Nih. Aku tulis semua di sini.
Keenan membuka‐buka buku itu, berdecak kagum.
KEENAN
Mereka beruntung punya guru kayak kamu.
KUGY
Aku yang beruntung bisa kenal mereka, bisa kenal anak
kayak Pilik.
(jeda)
Aku dengar lukisan kamu laku semua, ya? Keenan
Klappertartholland jadi pelukis beneran. Selamat, ya.
Kamu beruntung ketemu Wanda.
Ekspresi Keenan seketika berubah tajam.
KEENAN
Saya nggak ngelukis lagi, Gy.
KUGY
Hah? Maksudnya?
31.
KEENAN
Lukisan saya nggak ada yang laku. Itu cuma rekayasanya
Wanda. Saya bahkan nggak yakin beneran lolos seleksi
Warsita atau enggak. Semuanya bohong besar.
KUGY
Ya, ampun, Nan ...
KEENAN
Dan saya telanjur berhenti kuliah, saya sampai keluar dari
rumah. Semua gara‐gara terlalu percaya sama mimpi.
Percaya sampai buta.
KUGY
T‐tapi... nggak berarti kamu berhenti, dong. Kamu tuh
pelukis paling hebat yang pernah kutahu.
KEENAN
Berapa banyak pelukis yang kamu tahu? Kamu, Eko, Noni,
bilang saya pelukis hebat, ya terang aja, kalian temen
saya. Kalau saya beneran hebat, Wanda nggak usah repot
merekayasa ini‐itu.
KUGY
Masa kamu nyerah gitu aja? Kamu lebih percaya selera
kolektor daripada diri kamu sendiri?
KEENAN
Nyerah dan realistis emang beda tipis.
KUGY
Semua yang kamu bilang tentang berani jadi diri sendiri...
aku percaya itu! Kamu yang dulu ngingetin aku!
KEENAN
Kalau kamu sudah sampai di titik ini, kamu bakal ngerti,
Gy. Yah, sekarang puas‐puasin aja dulu mimpi.
KUGY
Ternyata aku ketinggian nilai kamu. Aku pikir kamu beda.
KEENAN
Well, inilah saya. Kalau kamu punya masalah dengan itu,
itu problem kamu.
KUGY
(menahan tangis)
Selama ini aku semangat nulis bukan cuma karena hobi,
bukan cuma karena Pilik, tapi karena...
32.
KEENAN
Karena apa?
Kugy ingin berkata “karena kamu”. Tapi tidak sanggup.
KEENAN (CONT’D)
Karena saya? Jangan bebanin saya, Gy. Saya nggak butuh
tambahan beban lagi. Ngejalanin ekspektasi orang lain
tuh capek, tauk!
Kugy kehilangan kata‐kata, ia terlalu kecewa. Bergegas, ia meninggalkan tempat itu.
Keenan berusaha mencegah tapi terlambat. Kugy sudah pergi jauh. Buku tulisnya
ketinggalan di tangan Keenan.
DISSOLVE TO:
EXT. POOL 50 BUS ‐ BANDUNG ‐ DAY 50
EKO
Ngelepas elo pergi berat buat gue, Nan. Tapi lebih berat
lagi karena gue nggak bisa bilang siapa‐siapa.
KEENAN
Gue nggak tahu lagi bisa percaya sama siapa. Uang tiket
ini kapan‐kapan gue ganti, ya ...
EKO
Apaan, sih. Cuma itu yang gue bisa kasih. Sori, gue nggak
bisa bantu lebih.
Keduanya berangkulan. Eko pun memandangi bus bertuliskan “Bandung ‐ Denpasar” itu
berangkat.
DISSOLVE TO:
51 I/E. TERAS RUMAH KUGY ‐ JAKARTA ‐ NIGHT 51
Kugy dan Ojos kelihatan bersitegang.
OJOS
Aku udah ngomong jauh‐jauh hari mau ngajak kamu ke
Bali. Masa kamu batalin gara‐gara perlombaan
kecamatan?
KUGY
Jos, keputusan Sakola Alit lolos seleksi itu baru minggu
lalu. Dan aku udah bilang sama kamu, jangan beli tiket
pesawat dulu. Anak‐anak tuh setengah mati persiapan
buat lomba, Jos. Kita itu cuma sekolah darurat.
33.
(MORE)
Bisa dibolehin ikut lomba kecamatan itu besar banget
artinya buat kita.
OJOS
Buat kamu kali. Bukan buatku. Aku kangen pacaran sama
pacarku, Kugy. Bukan pekerja sosial yang namanya Bu Ugi.
KUGY
Please, kita tunda minggu depan aja? Nanti subuh aku
harus ke Bandung.
OJOS
Kita bikin simpel, Gy. Aku tunggu kamu besok pagi di
airport. Kalau kamu nggak datang, kita nggak perlu
ngomong apa‐apa lagi. Prioritas kamu udah jelas, dan aku
nggak bisa ngemis‐ngemis perhatian kamu terus.
KUGY
Jos. Sekali ini aja. Aku nggak bisa ngorbanin anak‐anak itu.
OJOS
Selama ini mungkin kamu ngerasa udah banyak berkorban
buat Sakola Alit, tapi kamu lupa, aku yang paling banyak
berkorban di sini. Aku berkorban buat mereka, buat kamu,
dan buat dunia khayalmu yang aku nggak pernah ngerti!
Ojos bergegas pergi. Kugy setengah mati menahan air matanya. Tapi tak bisa.
CUT TO:
EXT. LAPANGAN 52 BESAR ‐ BANDUNG ‐ DAY 52
Di lapangan itu, berkumpul sejumlah rombongan anak SD dari berbagai sekolah, bersiap
mengikuti aneka lomba. Semua anak berseragam rapi. Kecuali sekelompok anak dari
Sakola Alit. Ditemani dua guru lain, ICAL dan AMI, mereka menanti cemas.
INTERCHANGE WITH
53 I/E. BANDARA SOEKARNO‐HATTA ‐ JAKARTA ‐ DAY 53
Di Terminal Keberangkatan, Ojos menanti sambil menggenggam dua lembar tiket.
Di lapangan, terdengar panggilan bagi tim Sakola Alit untuk mendaftar ulang. Anakanak
semakin resah. Ami meminta mereka bersabar sebentar lagi.
Di Terminal, mata Ojos mendadak berbinar. Ia melihat seseorang.
Di lapangan, Pilik tiba‐tiba melompat kegirangan sambil menunjuk seseorang.
Di Terminal, Ojos kembali muram. Ternyata yang dia tadi lihat bukanlah Kugy.
34.
KUGY (CONT'D)
Di lapangan, semua anak bersorak‐sorai. Kugy akhirnya datang.
AMI
Lega deh kita. Anak‐anak benar‐benar nggak semangat
kalau nggak ada kamu, Gy.
Kugy tersenyum. Namun sekilas ia teringat sesuatu yang menyurutkan senyumnya.
Di Terminal, Ojos melihat papan jadwal, tertera: “DENPASAR ‐ BOARDING”. Sambil
meremas TIKET di tangannya, Ojos menunduk lesu.
DISSOLVE TO:
54 I/E. FLASHING SCENES 54
Keenan di dalam bus, melamun memandang ke luar jendela.
KUGY (V.O.)
“Duniaku berubah, Nus.”
Noni dan Kugy nyaris berpapasan di koridor tempat kos, Kugy langsung berbelok dan
menghindar. Mereka tidak saling sapa.
KUGY (V.O.)
“Mungkin memang harus begini. Mungkin memang ini
jalannya.”
Keenan tiba di depan pintu rumah Wayan. Pintu dibukakan oleh Luhde.
KUGY (V.O.)
“Meski semua kelihatan baik‐baik saja, aku sering merasa
tersesat.”
Keenan disambut gembira oleh keluarga besar Wayan. Namun Keenan masih muram.
KUGY (V.O.)
“Semoga ada cahaya, petunjuk jalan, remah roti, apa pun,
yang bisa membawaku keluar dari sini.”
Dari jauh Luhde mengamati Keenan yang terus melamun.
Di Jakarta, Adri, juga kelihatan gundah. Memandangi FOTO Keenan di meja kerjanya.
KUGY (V.O.)
“Sebagaimana semua aliran air, dari mana pun itu, satu
saat pasti akan ke laut. Ya kan, Nus?”
Kugy keluar dari tempat kosnya membawa barang‐barang. Kamarnya ditinggal kosong.
Ia pindah.
35.
EXT. BALE RUMAH 55 WAYAN ‐ UBUD ‐ DAY 55
Keenan duduk dengan tebaran alat lukis. Kanvasnya kosong. Luhde mendekat hati‐hati.
LUHDE
Bapak saya bilang, pelukis yang bagus itu bisa melukiskan
kekosongan sekalipun.
KEENAN
Berarti saya bukan pelukis yang bagus.
LUHDE
Keluarga saya semuanya seniman. Saya lihat karya seni
dari kecil. Saya bisa tahu mana karya bagus, mana bukan.
Lukisan Keenan sangat bagus.
KEENAN
Saya tahu kamu jujur, De. Tapi ...
Luhde menyentuh KANVAS KOSONG di depan Keenan.
LUHDE
Ini ... anggaplah ini langit. Sepertinya langit ini kosong.
Tapi kita tahu, langit sebenarnya ndak pernah kosong. Ada
banyak bintang. Bahkan ndak terhingga. Keenan harus
percaya itu. Langit ini cuma ketutup awan. Kalau Keenan
bisa menyibak awan itu, kanvas ini ndak akan pernah
kosong lagi.
KEENAN
Benar kata Pak Wayan. Ternyata kamu cerewet.
LUHDE
Saya cuma mau bantu Keenan. Jangan tertipu kanvas
kosong. Nanti, kalau awan itu sudah tersibak, dari sekian
banyak bintang, seorang seniman akan menemukan satu
bintang yang jadi jodoh inspirasinya.
KEENAN
Berapa sih umur kamu?
LUHDE
Jalan delapan belas.
KEENAN
Kamu ABG paling bijak yang pernah saya tahu.
LUHDE
Umur segitu udah bukan ABG. Saya udah punya KTP.
36.
KEENAN
(tertawa)
Kamu ngingetin saya sama satu orang.
LUHDE
Tiap sembahyang saya akan mendoakan Keenan supaya
cepat bertemu bintangnya.
Luhde menangkupkan tangan di dada sambil menunduk, lalu pergi.
DISSOLVE TO:
EXT. BALE RUMAH 56 WAYAN ‐ UBUD ‐ LATER 56
Keenan merogoh RANSELNYA, mengeluarkan BUKU TULIS milik Kugy yang berisi cerita
Pilik. Dari jauh, Luhde yang sedang menyapu halaman, berhenti sejenak melihat Keenan
yang membaca. Luhde tersenyum. “Bintang” itu telah ditemukan.
57 I/E. FLASHING SCENES 57
Keenan mulai melukis lagi. BUKU TULIS KUGY selalu ada di sisinya. Halaman bukunya
terbuka dengan PAHATAN HATI sebagai pemberat. Luhde dan Wayan mengamati dari
kejauhan. Keduanya melihat harapan.
Di dalam ruang kuliah, Kugy tampak serius menyimak.
Di tempat kos, malam‐malam Kugy sibuk mengerjakan tugas. Membaca materi kuliah
dengan tekun.
Lukisan Keenan rampung. Ditulis di belakang kanvas: “Jenderal Pilik dan Pasukan Alit”.
Kugy bermain dengan Pilik dkk. Sejenak ia berhenti karena teringat sesuatu, mukanya
memurung. Namun keceriaan murid‐muridnya membuat ia kembali bersemangat.
Lukisan Jenderal Pilik dipajang di galeri Pak Wayan. Keenan tersenyum puas, Pak Wayan
merangkul bahunya.
Noni, yang sedang menyapu kamarnya, sejenak berhenti memandangi kamar kos Kugy
yang kosong.
DISSOLVE TO:
58 INT. KAMAR KOS NONI ‐ BANDUNG ‐ AFTERNOON 58
Seorang MAHASISWI mengetuk pintu kamar Noni yang terbuka.
MAHASISWI
Hai, Kak. Sori ganggu. Saya yang ngisi kamar seberangnya
Kakak.
37.
NONI
Oh, ya. Masuk aja. Kenapa?
MAHASISWI
Ada dus ketinggalan di kolong tempat tidur, Kak. Katanya,
yang dulu ngisi kamar itu temannya Kakak, kan? Saya bisa
nitip aja barangnya di sini?
Mahasiswi itu menunjukkan sebuah DUS KARTON. Noni menelan ludah.
CUT TO:
INT. KAMAR KOS NONI 59 ‐ BANDUNG ‐ LATER 59
Noni membongkar DUS dari kamar Kugy. Ada satu barang mencolok: SEBUAH KADO.
Noni ragu. Tapi akhirnya ia melemparkan kado itu ke dalam LACI MEJA BELAJAR.
CUT TO:
60 INT. GALERI WAYAN ‐ UBUD ‐ DAY 60
Tergopoh, Keenan masuk ke galeri Pak Wayan.
KEENAN
Pak Wayan manggil saya?
WAYAN
Nah, ini dia pelukisnya. Baru bangun tidur. Nan, kenalkan,
ini customer terbaik galeriku sejak dulu.
Pemuda gagah yang dimaksud oleh Pak Wayan mengulurkan tangannya mantap. Ia
bernama REMI.
REMI
Hai. Remi. Seneng banget bisa kenalan
langsung.
KEENAN
Hai. Keenan.
REMI
Jujur saya nggak nyangka kamu semuda ini. Ternyata Pak
Wayan nggak bercanda. Lukisan kamu, wah, barusan saya
bilang sama Pak Wayan, baru kali ini lagi saya merinding
lihat lukisan setelah sekian lama.
KEENAN
Makasih, Mas.
REMI
Please, “Remi” aja. Ini lukisan pertama kamu yang dijual
di galeri, ya? Saya merasa terhormat banget kalau saya
bisa jadi pembeli yang pertama.
38.
KEENAN
Saya ... saya sampai nggak tahu mau ngomong apa, Mas,
eh, Remi ...
WAYAN
Yah, malah yang jualan yang grogi! Gimana ini?
CUT TO:
INT. GALERI 61 WAYAN ‐ UBUD ‐ LATER 61
Keenan dan Wayan memandang Remi pergi dengan mobilnya. Keenan berdecak.
KEENAN
Baru saya lihat kolektor lukisan semuda itu.
WAYAN
Itu orang hebat, memang. Masih muda, sukses, cinta seni
lagi.
(jeda)
Luhde! Ngapain ngintip di situ?
Luhde yang sedari tadi berdiri di balik partisi, keluar dengan malu‐malu.
KEENAN
Nah, kalau mau cari cowok, yang kayak gitu. Jangan kayak
kita‐kita.
Wayan dan Keenan tergelak. Luhde hanya tersenyum, memancarkan
ketidaksetujuannya.
CUT TO:
62 I/E. FLASHING SCENES 62
Keenan melukis dengan semangat bertemankan BUKU TULIS Kugy dan PAHATAN HATI
di atasnya. Luhde menunggui. Mereka berpandangan dan saling senyum.
Kugy menjalani sidang skripsi. Tertulis di pintu: “HARAP TENANG. SIDANG SKRIPSI.”
Lukisan Keenan di galeri terus bertambah. Semuanya seri Jenderal Pilik & Pasukan Alit.
Keenan mengobrol dengan kolektor lain yang membeli lukisannya di galeri.
Kugy melihat papan pengumuman, sidangnya lulus dengan nilai A. Dia tersenyum puas.
Kugy memandang kamar kosnya yang sudah kosong. Barang‐barangnya sudah terpak
rapi. Ia lalu menutup pintu.
DISSOLVE TO:
39.
INT. RUMAH KUGY 63 ‐ JAKARTA ‐ MORNING 63
Abang Kugy, KEVIN; kakak perempuannya; KARIN, sedang mengamati sesuatu. Adik
bungsu Kugy, KESHIA, lagi membaca komik sambil ikut melirik sesekali.
KEVIN
Apa yang salah, ya?
KESHIA
Mukanya.
KARIN
Yang salah, adik‐adikku, adalah selera kalian semua. Inilah
yang namanya FASHION.
Terlihatlah Kugy meringis dalam baju kantor: kemeja, rok mini ketat, high heels,
stocking, clutch bag. Rambut di‐blow.
KUGY
Karel ... ?
Karel, yang baru datang, langsung melongo.
KAREL
Karin. Kugy bakal kerja jadi copywriter, bukan SPG. Bosnya
tuh sobatku. Dia aja ke kantor ngejins, kok. Gy, ganti baju
sana. Pakai baju yang nyaman buat kamu.
Kugy jingkrak‐jingkrak kesenangan.
CUT TO:
64 INT. RUMAH KUGY ‐ JAKARTA ‐ LATER 64
KEVIN
Apa yang salah, ya?
KESHIA
Semuanya.
Terlihatlah Kugy tersenyum lebar dalam baju pilihannya: T‐Shirt Culture Club, jins, jaket
jins kebesaran, ransel “K”, dan jam tangan plastik Kura‐Kura Ninja. Karel menelan
ludah.
KARIN
Bantuan tidak datang dua kali. Good luck, Karel.
CUT TO:
40.
INT. KANTOR 65 ADVOCADO ‐ JKT ‐ DAY 65
PINTU BESAR sebuah kantor dibuka. Tertera tulisan “ AdVocaDo ‐ Advertising &
Communication” di dinding. Kantor itu artistik dan berkelas. Ditemani Karel, Kugy
masuk celingak‐celinguk. Seorang perempuan cantik menyapa. Namanya SISKA.
SISKA
Hai, Karel! Apa kabar?
KAREL
Hai, Siska. You look good. Remi udah
datang?
SISKA
Paling bentar lagi. Ini Kugy, ya? Adikmu yang bakal
magang?
KAREL
Gy, kenalin ini temanku, Siska. Dia partnernya Remi.
Mereka berdua nih yang bikin AdVocaDo.
Kugy dan Siska bersalaman.
SISKA
Gue Siska, Art Director di sini. Yuk, gue anterin ke atas.
Mau nunggu Remi dulu kan, Rel?
KAREL
Gue nggak bisa lama‐lama. Entar gue telepon Remi aja
deh. Titip Kugy ya, Ka. Bye.
CUT TO:
66 INT. KANTOR ADVOCADO ‐ JKT ‐ LATER 66
Sambil menunggu, Kugy melihat‐lihat dinding yang penuh PIGURA PENGHARGAAN
PARIWARA atas nama REMIGIUS ADITYA.
SISKA
Bos besar udah dateng. Yuk.
Mereka naik tangga ke lantai dua.
SISKA (CONT’D)
Kita padahal nggak pernah terima mahasiswa magang
sebelumnya, lho. Tapi Karel bilang, kamu berbakat nulis.
KUGY
Saya udah lulus, sih. Cuma lagi nunggu wisuda aja.
Siska melirik Kugy, sangsi. Tiba‐tiba langkah Kugy terhenti di depan sebuah LUKISAN
dengan objek anak‐anak. Kugy tergugah.
41.
SISKA
Hello? Udah ditungguin.
Kugy buru‐buru menyusul Siska masuk ke ruangan.
REMI
Hai, Kugy? Saya Remi.
Remi kelihatan begitu charming dan Kugy seperti kena sihir.
REMI (CONT’D)
Saya temen deket banget sama Karel, tapi belum pernah
ketemu sama “The K family” yang lain. Kamu ... bungsu?
KUGY
Pengais bungsu. Karel, Karin, Kevin, saya, Keshia.
SISKA
Nama kamu aneh sendiri, ya.
KUGY
Saya juga yang paling korslet.
REMI
Di kantor ini yang dibutuhin memang orang‐orang korslet.
So, welcome to the team. Siska bakal brief kamu. Semoga
betah dan tambah korslet, ya.
Kugy tertawa. Dia langsung menyukai Bos barunya ini.
REMI (CONT’D)
Korslet di kantor ini artinya kreatif. Apalagi kalau jadi copy
writer. Wajib hukumnya.
KUGY
Siap! kalau lagi korslet banget, saya bisa ledakin gardu,
Mas.
REMI
Jangan “Mas‐Mas‐an”, just “Remi”. Please.
KUGY
Remi. Sip.
Siska melirik keduanya. Tidak suka apa yang ia lihat.
CUT TO:
67 INT. FLASHING SCENES 67
Kugy membuntuti Siska yang sibuk menjelaskan ini‐itu.
42.
Kugy sibuk fotokopi, gunting‐gunting gambar untuk story board.
Kugy membuatkan kopi dan teh untuk rekan‐rekan kerjanya yang rapat.
Kugy duduk terpisah. Tidak dilibatkan rapat. Terkantuk‐kantuk mendengar rekanrekannya
berdiskusi.
Di rumah, Kugy melemparkan tubuhnya ke sofa, tidur kelelahan.
DISSOLVE TO:
INT. KANTOR 68 ADVOCADO ‐ JKT ‐ DAY 68
Di ruang rapat, terjadi rapat besar. Remi juga hadir. Mereka mendiskusikan konsep
untuk produk cokelat: Frocholla.
REMI
Jadi ide yang udah solid apa, dong? Iman?
IMAN
Gue sih pendekatannya tetep komedi ya, komikal gitu,
soalnya kan mereka target marketnya anak‐anak sampai
dewasa, jadi harus yang gampang dicerna.
SISKA
Ya, tapi kalau dibawa ke komedi nggak bakalan
berkelaslah, harga mereka kan premium.
IMAN
Tapi ide lo yang ke‐Paris‐Paris‐an itu juga, sori ya, klise
banget.
REMI
Jujur, gue belum sreg sama semua ide kalian. Nggak ada
yang gigit.
Mata Remi tiba‐tiba tertumbuk pada Kugy yang nyempil di ujung, melamun.
REMI (CONT’D)
Kugy, ada usulan? Kugy? Halo?
KUGY
Oh, kenapa? Ada yang mau kopi? Teh?
Yang lain langsung cekikikan. Dapat hiburan. Remi menatap Kugy tajam.
REMI
Nggak. Saya butuh ide. Frocholla? Ada ide?
KUGY
Ehm. Frocholla. Hmm. Ide. Oke. Sebentar.
43.
Kugy tahu‐tahu memejamkan mata sambil menempelkan dua jari di kepala (Radar
Neptunus). Yang lain bengong campur menahan ketawa.
KUGY (CONT’D)
Visualnya dimulai dengan sedetik gelap total, sampai
orang‐orang di rumah nyangka teve mereka rusak. Lalu,
tanpa narasi, tanpa musik, kamera bergerak ke bawah,
ternyata ada selapis wafer, lalu tertuanglah karamel
keemasan, hujan rice crispy, frozen berries berjatuhan,
terakhir tertuang cairan cokelat Belgia. Semua itu tibatiba
dikemas ... krrrk ... bungkus Frocholla. Terakhir,
muncul tulisan: “Frocholla. Kelezatan Tanpa Banyak
Bicara.”
Satu ruang rapat terdiam.
IMAN
Gue jadi ngiler.
REMI
Itu ... konsep paling cemerlang dan orisinal yang gue
dengar tahun ini. Oke, kita jalan dengan konsep Kugy.
Siska, Kugy in charge jadi project leader Frocholla.
Siska menelan ludah, tapi ia mengangguk. Kugy tercengang.
REMI (CONT’D)
Good job, Kugy. Dan, thank you ... apa pun ini.
Remi tahu‐tahu menempelkan dua jarinya di kepala meniru Kugy. Kugy tersenyum
bercampur kaget. Remi baru saja mengingatkannya pada seseorang.
CUT TO:
INT. KANTOR 69 ADVOCADO ‐ JKT ‐ DAY 69
Terdengar suara ketukan di pintu ruangannya yang terbuka.
REMI
Masuk, Gy.
KUGY
Hai. Met pagi.
REMI
Frocholla gol. Kliennya senang banget sama ide kamu.
Mereka produsen besar banget, Gy. Ada lima produk lagi
yang mereka mau launch. Mereka kepengin semuanya
dikonsep sama kamu. Dan karena itu, status kamu udah
nggak mungkin anak magang lagi. Congratulation. Kamu
resmi jadi keluarga besar AdVocaDo.
44.
KUGY
Woo‐hoooo!!
Kugy tidak bisa menahan diri. Ia joget‐joget. Remi tergelak.
DISSOLVE TO:
I/E. KANTOR ADVOCADO 70 ‐ JKT ‐ AFTERNOON 70
Di pelataran kantor, Kugy berdiri menanti sesuatu. Mobil Remi lewat di depannya.
REMI
Belum pulang?
KUGY
Masih nunggu taksi. Jam segini seabad datangnya.
REMI
Masuk aja. Saya antar. Yuk.
Meski ragu, akhirnya Kugy masuk ke mobil Remi.
CUT TO:
71 INT. CAFE ‐ JKT ‐ EVENING 71
REMI
Nggak pa‐pa ya ke sini dulu. Abis jalanannya nggak gerak.
KUGY
Nggak pa‐pa. Nggak buru‐buru, kok.
Kugy berusaha keras untuk rileks. Sementara Remi santai menghirup kopi.
KUGY (CONT’D)
Jadi, advertising itu hobi?
REMI
Dari kecil saya bakatnya bikin dagangan orang laris. Jago
bacot. Awalnya saya kayak kamu. Copywriter dulu, Art
Director, eeh ... nekat deh, bikin company sendiri.
KUGY
Hebat. Buatku, kamu masuk kategori manusia paling
beruntung. Semua orang, kalau bisa, juga penginnya hobi
jadi profesi. Kalau berandai‐andai punya hobi lain,
penginnya punya hobi apa?
45.
REMI
Ngelukis. Saya paling ngiri sama pelukis. Sayang, nggak
bakat. Akhirnya cuma bisa beli doang.
Kugy langsung tersentil mendengarnya.
REMI (CONT’D)
Kamu? Kalau nggak di AdVocaDo, mau jadi apa?
KUGY
Juru Dongeng.
(suara dibesar‐besarkan)
“Mari terus maju, hai Juru‐juru Dongeng! Tangkaplah
setiap hati. Dan jangan takut. Segala sesuatunya ada,
segala sesuatunya benar. Dan Bumi hanyalah sebutir debu
di bawah telapak kaki kita. Hua‐ha‐ha‐ha!”
Remi bengong. Kugy tersadar. Langsung salah tingkah.
KUGY (CONT’D)
Ehm. William Butler Yeats. Primbonku. Tapi, ehm, yang
bagian ketawanya nggak ada sih. Improv.
REMI
Nggak heran punya yang beginian.
Remi membuat Radar Neptunus di kepalanya. Kugy terbahak.
KUGY
kalau itu sejarahnya panjang ...
REMI
Saya pengin dengar.
KUGY
Ah, entar nyesel lagi rekrut aku jadi pegawai.
REMI
Nyeselnya udah kok. Ceritain, dong.
Sambil tertawa‐tawa Kugy bercerita. Mereka menikmati kebersamaan itu.
DISSOLVE TO:
72 INT. FLASHING SCENES 72
Kugy memimpin rapat kreatif di AdVocaDo. Kelihatan dia menjadi orang penting. Siska
memandangi Kugy dari ujung ruangan. Tampak tidak senang.
Kugy menyempatkan diri berhenti di depan LUKISAN favoritnya, sebelum dengan
semangat bekerja lagi.
46.
Kugy diantar pulang lagi oleh Remi. Beberapa orang di kantor kasak‐kusuk. Siska
mengamati itu semua dan kelihatan tidak suka.
CUT TO:
EXT. BALE RUMAH 73 WAYAN ‐ UBUD ‐ DAY 73
Luhde mengusap tulisan “Pilik & Pasukan Alit”. Mengamati setiap ukiran HURUF “K”‐
nya yang khas. Keenan sedang asyik melukis.
LUHDE
Harusnya ini jadi buku betulan. Cerita‐ceritanya bagus
sekali. Lucu, tapi menyentuh. Saya pengin satu saat
kenalan sama yang nulis. Temannya Keenan, kan?
KEENAN
Iya.
LUHDE
Perempuan?
Keenan berhenti melukis, lalu menghampiri Luhde. Melepaskan buku itu dari
genggamannya. Ia ingin mengalihkan pembicaraan.
KEENAN
Dengar‐dengar, bentar lagi ada yang mau ulang tahun.
Mau kado apa?
LUHDE
Coba Keenan tebak sendiri, kira‐kira saya maunya apa?
KEENAN
Parfum? Lipstik?
Luhde tertawa geli.
KEENAN (CONT’D)
Oke. Kamu mau buku apa?
LUHDE
Saya nggak mau buku. Saya ingin sesuatu yang Keenan
buat sendiri.
KEENAN
Mau kubuatkan lukisan?
LUHDE
Keenan melukis karena cinta sama seni lukis. Tapi ada
satu yang Keenan buat karena cinta yang lebih dalam.
Ekspresi Keenan seketika berubah. Ia tahu benda apa yang dimaksud Luhde.
47.
LUHDE (CONT’D)
Kalau Keenan ndak bisa kasih, ndak apa. Saya cuma
merasa ini indah sekali.
KEENAN
Kasih saya waktu, ya. Sori. Saya ...
LUHDE
Saya yang lancang. Maaf ...
Merasa bersalah, Luhde bergegas pergi. Keenan termenung, mengambil PAHATAN HATI
yang tergeletak di atas buku, menimangnya bimbang.
INT. RUMAH KEENAN 74 ‐ JAKARTA ‐ NIGHT 74
TV menyala. Sayup terdengar orang‐orang count‐down pergantian tahun. Adri duduk
sendiri, menonton TV dengan tatapan hampa. Lena melongok dari kamar, mengantuk.
LENA
Belum mau tidur, Dri?
ADRI
Belum. Duluan aja. Aku belum ngantuk.
Lena masuk lagi ke kamar. Adri memalingkan muka, menatap jendela, menangis pilu.
75 EXT. COTTAGE ANCOL ‐ JAKARTA ‐ NIGHT 75
Perayaan tahun baru kantor AdVocaDo. Riuh‐rendah terdengar dari dalam. Kugy malah
melamun di halaman, duduk di ayunan. Tahu‐tahu Remi muncul dari belakang.
REMI
Ngucapin tahun baru sama Neptunus?
KUGY
Sumpek di dalam. Enak di sini, dengar ombak. Ombak tuh
suara alam paling merdu, menurutku. Walau kalau di
Ancol sih, lebih tepat: suara air laut nabrak tembok.
REMI
Ke Bali, yuk. Di sana ombaknya beneran merdu.
KUGY
Kamu, tuh. Ngomong ke Bali kayak ngajak ke POM bensin.
Ringan amat.
REMI
Lho, jangan dibikin susah, dong.
48.
KUGY
Remi. C’mon. Aku‐‐kamu?
REMI
Karena aku teman abangmu, atau karena atasan kamu?
KUGY
What? Apaan, sih. Kok, jadi serius bahas ke Bali.
REMI
Aku nggak ngomongin Bali. Aku ngomongin kita.
KUGY
Nggak ngerti ...
REMI
Apa yang kamu nggak ngerti? Aku suka sama kamu? Aku
semangat ngantor gara‐gara kepengin ketemu kamu,
dengar kamu cerita, lihat tingkah aneh kamu, ketularan
ketawa gara‐gara kamu ketawa? Masih harus aku
omongin, Gy?
KUGY
Kamu tuh... REMI! Kamu tuh Bos‐ku! Kamu, yang tiap kali
gathering selalu diomongin semua orang, ditaksir cewek
satu industri kali, gimana bisa...?
REMI
Kamu peduli itu semua? Aku nggak percaya.
KUGY
Aku cuma ngebayangin apa yang orang lain pikirin.
Remi berangsur mendekat. Menatap mata Kugy dalam‐dalam.
REMI
Aku tahu kok risikonya, etikanya. Tapi, gimana? Emang
hati peduli?
Kugy tersenyum lebar. Begitu juga Remi. Mereka tahu sama tahu.
INTERCHANGE WITH
INT. RUMAH 76 WAYAN ‐ UBUD ‐ SAME NIGHT 76
Luhde tertidur di kursi ruang tamu. Hati‐hati, Keenan menyelipkan pahatan hatinya ke
tangan Luhde, lalu pergi.
LUHDE
Keenan?
49.
KEENAN
Hei. Maaf. Jadi bangunin kamu.
LUHDE
Ini ... untuk saya?
Keenan mendekat, menggenggam tangan Luhde.
KEENAN
Untuk semua yang kamu udah kasih untuk saya, kalau bisa
saya buat pahatan yang sama tapi sebesar gunung, De.
Tapi sekarang mampunya baru segini.
Luhde menatap Keenan penuh cinta.
Perlahan, Remi mendekati Kugy, mencium keningnya. Mereka bertatapan. Penuh cinta.
Perlahan, Keenan mendekati Luhde, mencium keningnya.
INTERCHANGE WITH
77 INT. RUMAH KEENAN ‐ JAKARTA ‐ SAME NIGHT 77
Saat berjalan menuju kamarnya, Adri tiba‐tiba memegang dadanya, kesakitan. Ia
melorot jatuh, pingsan.
CUT TO:
78 INT. RUMAH WAYAN ‐ UBUD ‐ AFTERNOON 78
Luhde membuka pintu yang diketoki seorang tamu: Lena.
LENA
Keenan‐nya ada?
Luhde terpana, seperti melihat hantu. Ia mengangguk pelan.
CUT TO:
79 INT. RUMAH WAYAN ‐ UBUD ‐ LATER 79
Di ruang tamu, Lena dan Keenan duduk berhadapan. Murung.
LENA
Ini bukan yang pertama kali, Nan. Dua bulan lalu, Papamu
stroke ringan. Dia bilang cuma kecapean. Tapi aku tahu
bukan itu. Kali ini dia bisa lumpuh total. Tiga hari Papamu
kritis, tadi pagi siuman.
50.
(MORE)
Gerakin tangan saja belum bisa, tapi dia berusaha sebut
namamu. Mama langsung ke airport.
KEENAN
Mama tahu aku di sini dari Eko?
LENA
(menggeleng, Bhs Belanda, subtitled)
I’m your mother. I just know.
KEENAN
Kita ke Jakarta malam ini, Mam.
LENA
Sorry, schatje. Aku tahu kamu sudah menemukan
rumahmu ...
KEENAN
(Bhs Belanda, subtitled)
It’s not true, Mam. Sampai kapan pun Papa, Mama, Jeroen
adalah rumah pertamaku.
CUT TO:
INT. KAMAR KEENAN ‐ 80 RUMAH WAYAN ‐ UBUD ‐ LATER 80
LUHDE
Barang‐barang Keenan dari studio sudah saya rapikan
semua.
Keenan, yang baru selesai berkemas, mendapatkan Luhde berdiri santun.
KEENAN
De, kalau Papa saya sembuh, saya pasti ke sini lagi.
LUHDE
Keenan sudah pernah ada saja sudah lebih dari cukup.
Kalau kamu ndak kembali, saya ngerti.
Keenan seketika memeluk Luhde.
KEENAN
Jangan bicara gitu. Saya pasti ke sini lagi.
(Bhs Bali, subtitled)
Saya sudah janji.
Luhde melepaskan pelukan Keenan hati‐hati, lalu menyerahkan bungkusan kain.
LUHDE
Ini. Saya kembalikan.
51.
LENA (CONT'D)
Keenan menatap Luhde tajam. Bungkusan itu ternyata PAHATAN HATI buatannya.
Keenan menyerahkannya kembali ke Luhde.
KEENAN
Saya kasih lagi untuk yang kedua kali. Nggak akan ada
yang ketiga kali. Ini memang untuk kamu.
Kali ini, Luhde mendekap Keenan erat‐erat.
CUT TO:
INT. KAMAR WAYAN ‐ RUMAH 81 WAYAN ‐ UBUD ‐ LATER 81
Wayan sendirian di kamarnya, memandangi lukisan di pojok kamar yang ditutupi kain.
Ia membukanya, lalu duduk menatap lukisan tersebut. Lukisan potret Lena. Tertanda:
“Wayan ‐ 1983”
82 INT. RUMAH SAKIT ‐ JAKARTA ‐ DAY 82
Di ranjang rumah sakit, Adri tidur terbaring. Lena dan Keenan memandangi, trenyuh.
KEENAN
Mam, saya tahu gimana bisnis Papa. Sebulan lagi dibiarin
jalan sendiri, bisa berantakan semua. Saya bakal bantu
ngurus di kantor. Nanti saya telepon Om Hendra.
LENA
Keenan, kamu nggak perlu sampai ikut turun ...
KEENAN
Harus. Tanggung jawabku sekarang untuk ngurus keluarga
ini.
(menggeleng, Bhs Belanda, subtitled)
I’m a grown‐up now, Mam.
Lena terharu melihat Keenan siap berkorban. Ia langsung memeluk Keenan.
CUT TO:
83 INT. FLASHING SCENES 83
Keenan mematut diri di kaca, memakai pakaian kantor.
Eko dan Noni berkemas, mengosongkan kamar Noni. Noni pakai baju toga. Eko pakai
topi wisuda.
Di kantor ayahnya, Keenan mempelajari setumpuk berkas, berbicara dengan para
karyawan. Ia sungguh‐sungguh belajar dari nol.
52.
Noni menemukan lagi KADO KUGY dalam dus. Kali ini, Noni membukanya.
Di ruangan kantor, Keenan tergerak untuk menelepon Eko.
Sehabis memasukkan barang ke bagasi Fuad, Eko menerima telepon. Matanya
membelalak ketika tahu siapa yang meneleponnya. Eko jingkrak‐jingkrak kegirangan.
Di ujung sana, Keenan pun mengobrol sambil tertawa‐tawa.
Noni menemukan amplop putih yang di selipan sampul belakang. SURAT KUGY yang
dulu ditulis untuk Keenan. Noni membacanya.
84 INT. KAMAR KOS NONI ‐ BANDUNG ‐ DAY 84
EKO
Non! Barusan aku ditelepon ... lho, Non? Kamu kenapa?
Noni terduduk bengong di kasur. Di tangannya ada sehelai surat.
NONI
Aku nemu ini ... Kugy ... Keenan ... ternyata mereka ...
CUT TO:
85 INT. KAMAR KOS NONI ‐ BANDUNG ‐ LATER 85
NONI
Jadi, selama ini kamu tahu Keenan di Ubud?
EKO
Sori. Aku janji sama dia nggak bilang siapa‐siapa.
NONI
Aku kepikiran Kugy. Kalau aja dulu dia cerita sama kita.
EKO
Itu anak sekrup otaknya emang longgar, tapi kalau urusan
hati dia selalu kunci rapat‐rapat. Kamu tahu sendiri, kan?
NONI
Itu dia yang aku nyesel. Aku sobatnya dari kecil, Ko.
Harusnya aku yang lebih ngerti dia.
EKO
Selama kalian diem‐dieman, aku kejepit, Non. Kalau aku
deket sama Kugy, kamu ngadat. Aku jauh sama dia, ya
makinlah dia tertutup. Terus, ketitipan rahasia Keenan,
pula! Udah mau pecah nih ‘pala, tau nggak.
53.
NONI
Kangen banget sama Pura‐pura Ninja. Kita berempat
kayak dulu. Kangen Kugy.
EKO
Apalagi aku. Di mana lagi bisa dapetin kuli dorong yang
bayarnya pake teh botol doang? Hepi lagi.
NONI
Aku sok‐sokan lagi nyomblangin Keenan sama Wanda.
Udah jelas‐jelas Keenan cocoknya sama alien kayak Kugy.
EKO
Belum tentulah, Non. Kita nggak pernah tahu. Biar jadi
urusan mereka berdua, deh. Kalau jodo ya nggak akan
kemana. Kalau nggak jodo ya ...
NONI & EKO
Jono.
NONI
Ya nasiiib... punya calon tunangan dodol.
EKO
Lha, situ sama aja.
CUT TO:
INT. KAMAR KUGY 86 ‐ JAKARTA ‐ MORNING 86
Kugy meringkuk lelap di bawah selimut. Tahu‐tahu terdengar suara memekik.
NONI
PURA‐PURA NINJAAA! KUMPUUUL!
Kugy bangun tersentak, mata setengah terpejam, tangannya bikin kuda‐kuda.
KUGY
COWABUNGA!
NONI
Udah jadi sarjana masih aja refleks anak SD lo pelihara!
KUGY
Kok ... lo bisa ke sini?
NONI
Gy, gue banyak dosa sama lo. Gue baru ngerti sekarang.
Sori, gue kepaksa baca.
Noni menyerahkan SCRAPBOOK. Kugy terkesiap menerimanya.
54.
NONI (CONT’D)
Selama itu gue merasa lo yang salah sama gue, merasa lo
yang berubah. Gue ngediemin lo segitu lama, cuma
karena gue gengsi nanya.
KUGY
Memang gue salah kok. Pengin lu ngertiin gue tanpa gue
harus cerita apa‐apa. Dan saking ngerasa bersalah sama
lu, gue makin takut ngedeketin lo lagi. Sori, ya.
NONI
Apa yang lo tulis buat Keenan ... entah gue benar‐benar
buta nggak baca situasi, atau lo yang pinter nutupin,
nggak ngerti deh. Maafin gue ya, Gy. Gue juga punya ini
buat lo.
Noni mengalungkan Kugy medali bertuliskan “Sahabat Terbaik & Terawet” dari pesta
ulang tahunnya.
NONI (CONT’D)
Tulisan itu masih berlaku, kok.
KUGY
Gue nggak punya medali, Nyet. Tapi ada tato di hati gue,
tulisannya sama kok.
Kugy memeluk Noni. Noni menyeka matanya yang mulai basah. Kugy kembali
memandangi scrapbook‐nya.
KUGY (CONT’D)
Asli. Nggak nyangka bakal ketemu buku ini lagi. Tapi
semua ini udah lewat, Non.
NONI
Uh‐oh. Lo punya pacar, ya? Atau naksir orang? Gue apal
banget tuh muka.
KUGY
Ada yang lagi deket. Tapi, ah, kayaknya nggak mungkin.
NONI
Nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini, Gy. Buktinya
kita yang sobatan dari orok aja bisa diem‐dieman segitu
lama, hayo. Siapa, sih? Kali ini jujur aja deh sama gue.
KUGY
Bos gue di kantor.
NONI
Itu baru pilihan cerdas! Asmara dan jenjang karier samasama
lancar.
55.
KUGY
Monyong.
NONI
Gue juga ada pengumuman penting, nih.
KUGY
Lo sebenarnya Batman?
NONI
Gue mau tunangan sama Eko, Nyet. Bulan depan.
KUGY
Itu lebih gila daripada lo Batman.
NONI
Bangke!
CUT TO:
EXT. HALAMAN RUMAH KEENAN 87 ‐ JAKARTA ‐ DAY 87
EKO
(logat Belanda)
MENEER VAN DER SINGKONG!
KEENAN
(logat Arab)
JURAGAN FUAD BIN TITAN!
LENA
Siang, Eko.
EKO
Eh, Tante Lena. Maap, Tante. Yang barusan panggilan
sayang, kok. Kangen banget sama anak ilang satu, nih.
Sekalian mau nengok Tante dan Om Adri.
LENA
Om pasti senang lihat kamu. Masuk aja.
Berangkulan, Eko dan Keenan masuk ke rumah.
CUT TO:
88 INT. RUMAH KEENAN ‐ JAKARTA ‐ DAY 88
Adri didorong pergi oleh Jeroen di kursi roda. Eko trenyuh melihat kondisi pamannya.
EKO
Anytime lo butuh bantuan gue, Nan, gue siap. Pokoknya
gue udah tenang sekarang. Lo udah balik. Kugy dan Noni
udah baikan.
56.
KEENAN
Emangnya mereka kenapa? Sempat musuhan?
EKO
(gugup)
Yah, gitu, deh. Urusan cewek. Biasa.
KEENAN
Pura‐Pura Ninja. Udah lama banget rasanya. Lo sama
Noni udah mau tunangan. Kugy ... apa kabarnya dia?
EKO
Kurang ajar tuh anak, lulus kuliah nggak nyampe 4 tahun.
Magang di kantor advertising, eh, cuma berapa minggu
udah jadi karyawan tetap. Sekarang sukses pula.
KEENAN
Advertising? Gue pikir dia bakal jadi penulis dongeng.
EKO
(terbahak)
Lo pikir kita hidup di negeri peri, broer?
CUT TO:
EXT. RUMAH 89 EKO ‐ JAKARTA ‐ DAY 89
Acara pertunangan Eko & Noni. Kugy turun dari taksi tergesa‐gesa. Tergopoh masuk
sambil menyiapkan kameranya.
CUT TO:
90 INT. RUMAH EKO ‐ JAKARTA ‐ LATER 90
Kugy menyeruak kerumunan tamu. Sibuk mengambil gambar. Eko dan Noni sudah
hendak tukar cincin. Keenan yang menyerahkan. Tercenganglah Kugy. Keenan juga tak
sengaja melihat Kugy. Sama terpananya. Hadirin bertepuk tangan. Keduanya tersadar.
CUT TO:
91 I/E. RUMAH EKO ‐ JAKARTA ‐ LATER 91
Di teras belakang, Keenan dan Kugy berdiri bersisian. Canggung. Keduanya memegang
minuman yang tak diminum.
KEENAN
Datang sendiri, Gy?
57.
KUGY
Iya. Tadinya mau ditemenin sama cowokku, tapi dia
mendadak nggak bisa. Kamu ... datang sendiri juga?
KEENAN
Iya. Pacar saya jauh, di Bali.
KUGY
Jadi, selama ini kamu di Bali?
KEENAN
Di Ubud. Tempatnya Pak Wayan.
KUGY
Tiga tahun nggak ada kabar dan kamu bilang gitu kayak
baru pulang liburan.
KEENAN
Sama sekali bukan liburan, Gy.
KUGY
(tajam)
Pastinya. Nggak ada yang orang liburan segitu lama tanpa
kabar.
Suasana semakin kaku. Keenan terlihat tidak nyaman.
KUGY (CONT’D)
Kapan pulang ke Bali lagi?
KEENAN
Belum tahu. Papa saya stroke. Saya harus di sini sampai
Papa sembuh.
KUGY
Ya, ampun. Aku ikut doain ya, Nan.
KEENAN
Thanks. Senang ketemu kamu lagi. Pangling. Ternyata
teori evolusi itu beneran terbukti, ya.
KUGY
Monyet.
KEENAN
Ya, itu. Persis kata Darwin. Dari monyet dulu baru jadi
gini.
Mereka berdua tertawa. Dari belakang, bahu mereka ditepuk oleh Eko dan Noni.
EKO
Pura‐pura Ninja! Kembali mengamankan dunia! Yeah!
58.
KUGY
Mengacaukan dunia, kali.
CUT TO:
EXT. HALAMAN RUMAH 92 EKO ‐ JAKARTA ‐ NIGHT 92
Kugy sudah menuju mobilnya.
KEENAN
Gy. Boleh bicara bentar? Ada yang perlu saya kasih tahu.
Pengakuan.
KUGY
Oh. No. Kamu Batman?
KEENAN
Betul sekali. OK, bye ...
KUGY
Pengakuan apa?
KEENAN
Sebenarnya hari ini saya udah tahu bakal ketemu kamu.
Dan saya udah nyiapin sesuatu. Tapi nggak bisa dikasih
sekarang. Mesti di satu tempat. Ehm, besok pagi boleh ke
rumah kamu, nggak?
KUGY
Jam berapa?
KEENAN
Jam setengah enam? Jam enam, deh.
KUGY
Kamu mau ngajak ngerampok?
KEENAN
Jadi boleh?
KUGY
Tapi aku nggak mau mandi, ya!
KEENAN
Mandi juga nggak ngaruh, kok.
KUGY
Iya juga, sih. Oke, sampai besok, Klappertartholland.
KEENAN
Sampai besok, Karmachameleon.
59.
EXT. PEKARANGAN RUMAH KUGY 93 ‐ JAKARTA ‐ EARLY MORNING 93
Kugy dan Keenan sudah siap berangkat, dengan ransel “K” masing‐masing.
KEENAN
Perlengkapan yang saya SMS udah siap semua?
Kugy mengangguk mantap.
KEENAN (CONT’D)
Bagus. Sekarang, peraturan perjalanan. Pertama: peserta
harus percaya sepenuhnya sama panitia. Peraturan kedua:
no HP. Tiga: kalau kentut, harus ngaku.
Kugy menegapkan badan dan memberi hormat.
KUGY
Siap, Kumendan! kalau dari aku, syarat cuma satu: naga di
perut nggak boleh terlambat dikasih makan. Kalau nggak,
Jakarta rusuh.
KEENAN
Siapa bilang kita bakal di Jakarta?
CUT TO:
94 EXT. JALAN TOL PASTEUR ‐ BANDUNG ‐ MORNING 94
Mobil Keenan melintasi jalan tol, menuju arah kota Bandung.
DISSOLVE TO:
95 INT. MOBIL KEENAN ‐ JALAN LUAR KOTA ‐ DAY 95
Kugy yang tertidur, mulai membuka matanya. Pemandangan di luar berganti menjadi
sawah dan lembah.
KUGY
Kita ke mana, sih?
KEENAN
Peraturan nomor satu: percaya sama panitia.
Kugy tersenyum kecil, memejamkan matanya lagi. Mobil Keenan sudah melewati kota
Garut.
DISSOLVE TO:
60.
I/E. MOBIL 96 KEENAN ‐ PANTAI RANCA BUAYA ‐ AFTERNOON 96
Kugy terbangun lagi. Keenan tidak ada di sampingnya. Kugy melihat sekeliling lalu buruburu
keluar. Mobil itu terparkir di tebing menghadap laut yang sangat indah. Matahari
sudah mulai turun. Di ujung tebing tampak siluet Keenan yang sedang duduk.
KUGY
Naaan! Kita di mana ini?
Keenan berdiri menyambut Kugy, berseri‐seri.
KeENAN
Selamat, Rekan Agen! Karena prestasimu yang luar biasa,
kamu dapet jatah liburan ke markas Neptunus.
KUGY
Kali ini kamu ngalahin aku gilanya.
KEENAN
Sebanding kan sama pegal‐pegal di jalan?
Kugy mendecak kagum melihat pemandangan spektakuler di hadapannya.
KUGY
Segitu lamanya jadi karyawan Neptunus, baru sekarang
dapat hadiah begini.
KEENAN
Ini baru permulaan. Yuk!
Keenan menggandeng Kugy berlari menuruni tebing.
CUT TO:
97 EXT. FLASHING SCENES 97
Kugy dan Keenan sudah berganti celana pendek. Mereka bermain di pinggir pantai.
Keenan membawa alat‐alat lengkap: mainan anak‐anak untuk bikin istana pasir,
sleeping bag, cooler box, dan pisang susu. Kugy kegirangan.
Kugy membuat istana pasir, sementara Keenan berbaring istirahat.
DISSOLVE TO:
98 EXT. PANTAI RANCA BUAYA ‐ EVENING 98
Di depan api unggun, Kugy dan Keenan duduk bersisian.
61.
KUGY
Oke. Kenapa? Kenapa ke sini? Kenapa sekarang? Kenapa
harus seniat ini? Kamu udah bawa aku kabur sejauh ini,
Nan. Seenggaknya aku berhak tahu alasanmu yang jujur.
KEENAN
Saya tahu kamu suka pantai. Dan ini pantai di Jawa Barat
yang paling indah yang pernah saya temuin.
KUGY
Itu jujur. Dan aku setuju. Tapi aku mau dengar yang paling
jujur.
KEENAN
Dua tahun lalu, saya sempet kehilangan semuanya. Dan
kamu, Pilik, murid‐muridmu di Alit, menyelamatkan saya.
Masih inget ini?
Kugy tercengang melihat BUKU TULIS berisi cerita Pilik yang sudah kumal.
KUGY
Kupikir buku ini hilang di saung. Selama ini ada di kamu?
KEENAN
Setiap hari. Setiap saya ngelukis. Karena tulisan kamu,
kanvas saya punya kehidupan lagi, Gy. Ini cuma cara saya
berterima kasih untuk semua yang kalian kasih lewat buku
itu. Selamanya aku berutang budi sama kamu,
Karmachameleon.
Kugy tercekat. Matanya berkaca‐kaca.
KEENAN (CONT’D)
Besok, sebelum balik ke Jakarta, saya pengin ngajak kamu
mampir nengok anak‐anak Sakola Alit. Ada sesuatu yang
harus saya kasih juga ke mereka. Mau?
Kugy mengangguk sambil menyusut air matanya malu‐malu.
DISSOLVE TO:
EXT. PANTAI RANCA 99 BUAYA ‐ SUNRISE 99
Keenan terbangun dari sleeping bag‐nya. Di sampingnya, sleeping bag Kugy sudah
kosong. Tampak siluet Kugy berdiri menghadap pantai, memandangi langit yang mulai
terang.
CUT TO:
62.
EXT. PANTA 100 RANCA BUAYA ‐ LATER 100
Keenan tiba di sisi Kugy.
KUGY
Aku mau nulis lagi. Aku mau nerusin “Jenderal Pilik dan
Pasukan Alit”.
(jeda)
Nan ... ini permintaan resmi dari penulis amatir yang
karyanya belum pernah diterbitin: mau nggak jadi
ilustrator bukuku?
KEENAN
Terbit nggak terbit, cuma saya di dunia ini yang boleh jadi
ilustratornya, tauk.
Tanpa bisa menahan, Keenan meraih tangan Kugy. Kugy menggenggamnya balik. Cepat,
keduanya tersadar. Keenan pun merangkul Kugy, sok rileks. Mereka masih saling
mencintai.
DISSOLVE TO:
101 EXT. DESA SAKOLA ALIT ‐ BANDUNG ‐ MORNING 101
Mobil Keenan tiba di depan jalan setapak menuju Sakola Alit. Kondisi di sana berubah.
Banyak kendaraan konstruksi dan pekerja seliweran. Melihat itu, Kugy dan Keenan
langsung cemas.
CUT TO:
102 EXT. SAKOLA ALIT ‐ BANDUNG ‐ LATER 102
KUGY
Nan ... kelasku ...
Saung tempat Kugy mengajar sudah hancur. Tak jauh dari sana, seorang ibu mengaisngais
puing. Ibunya Pilik. Ia terperanjat melihat Kugy.
IBU PILIK
BU UGI!
Ibu Pilik menghambur memeluk Kugy.
CUT TO:
103 EXT. MAKAM PILIK ‐ BANDUNG ‐ LATER 103
Di sebuah makam sederhana yang tanahnya masih segar, terpancang nisan kayu: “PILIK
BIN SOMAD”. Kugy terduduk menangis, dirangkul Keenan.
63.
KUGY
Aku udah setahun hilang kontak sama Klub Kakak Asuh.
Bener‐benar aku nggak tahu ...
KEENAN
Jangan salahin diri kamu.
KUGY
Tapi, kalau aku tahu, aku bisa bantu, Pilik bisa dirawat.
Baru sebulan yang lalu, Nan.
KEENAN
Kugy. Kenyataannya kamu nggak tahu.
CUT TO:
104 EXT. MAKAM PILIK ‐ BANDUNG ‐ LATER 104
Keenan mendekati Pak Somad yang berdiri tak jauh dari mereka.
KEENAN
Pilik sakit apa, Pak?
PAK SOMAD
Tifus, Den. Habis pembangunan real estate, Sakola Alit
bubar. Ladang Bapak juga kegusur. Pilik udah nggak bisa
sekolah. Boro‐boro berobat, Den.
KEENAN
Berapa rumah yang kegusur, Pak?
PAK SOMAD
Hampir semua keluarga Sakola Alit, Den. Ada yang pulang
kampung, ada yang masih di sini.
KEENAN
Pak, saya ke sini karena sebetulnya saya ada utang budi
sama Sakola Alit, sama Pilik. Nggak usah saya jelasin apa.
Tapi saya sudah berniat mau nyumbang buat keluarga
Bapak, keluarga murid‐muridnya Kugy. Nanti saya titipkan
uangnya ke Pak Somad, ya.
PAK SOMAD
Hatur nuhun pisan, Den. Selama ini nggak ada bantuan
sama sekali buat orang di sini. Nggak ada ganti rugi.
CUT TO:
64.
INT. MOBIL KEENAN 105 ‐ TOL DALAM KOTA ‐ JAKARTA ‐ DAY 105
Kugy melamun, memandang ke luar. Keenan mengemudi. Keduanya membisu.
106 INT. KAMAR KUGY ‐ JAKARTA ‐ DAY 106
Kugy membuka HP‐nya, masuklah sederet SMS dan mailbox dari Remi. Cemas, Kugy
menelepon Remi.
KUGY
Remi ... ?
REMI (O.S.)
Dari mana aja?
KUGY
Aku ... temenku ada yang meninggal, di Bandung. Sori, HPku
ketinggalan. Aku baru pulang tadi subuh.
INTERCHANGE WITH
107 INT. APARTEMEN REMI ‐ JAKARTA ‐ DAY 107
REMI
Dan itu bikin kamu sampai nggak menghubungi aku
seharian? Satu kali pun? Orang rumah kamu nggak ada
yang tahu kamu kemana?
Kugy meringis, diserang perasaan bersalah.
REMI (CONT’D)
Kamu kebayang nggak aku khawatirnya kayak apa?
Semenit, Kugy. Semenit aja telepon dari kamu udah
cukup, tahu? Aku hampir ngelapor ke polisi.
KUGY
Sori, Remi. Aku memang salah.
REMI
Aku nggak bisa ngomong dulu sama kamu sekarang.
Telepon itu ditutup. Kugy tersungkur di tempat tidur. Perasaannya tidak karuan.
CUT TO:
108 INT. FLASHING SCENES 108
Di kamarnya, Keenan membuka lagi alat‐alat lukisnya. Membersihkannya.
65.
Di kantor, Kugy mulai menulis cerita Pilik yang baru, menulis tangan di buku tulis
seperti dulu.
Sebuah amplop tiba di meja kantor Keenan. Keenan membukanya: carikan kertas
bertuliskan tangan Kugy. Ada selembar pesan: “Cerita Jenderal Pilik kalau nggak ditulis
tangan, nggak seru!”
Di rumah, Keenan buru‐buru ke kamar, langsung bersiap melukis.
Di kantor, Kugy kerjanya melamun dan menulis. Setumpuk pekerjaannya tak tersentuh.
DISSOLVE TO:
INT. RUANGAN REMI ‐ KANTOR 109 ADVOCADO ‐ JKT ‐ DAY 109
SISKA
Kerjaan gue berantakan gara‐gara dia. Udah tiga kali gue
tagih, udah nggak keitung gue diomelin sama klien, dan
masih belum beres juga!
REMI
Fine. Nanti gue ngomong sama Kugy.
SISKA
Karena dia pacar lo makanya lo selalu nanggapin komplain
gue setengah ati?
REMI
Hei. Kok nyolot?
SISKA
Kita temen kantor, Rem. Tapi gue kenal lo dari kita masih
ingusan. Jadi, sekarang gue ngomong sebagai temen.
Harusnya lo nggak boleh punya hubungan sama dia.
REMI
Jadi sama siapa? Elo?
Siska tersentak. Perkataan Remi membuatnya gugup.
REMI (CONT’D)
Gue tahu risikonya, Ka. Anak‐anak nyorotin kerjaan Kugy,
nunggu dia bikin salah, ngomongin di belakang. Tiap hari,
itu hal pertama yang harus gue hadapin. Jangan kira gue
nggak tahu. Tapi kehidupan pribadi gue adalah urusan
gue.
SISKA
Lo buta.
66.
Gusar, Siska keluar dari ruangan. Berpapasan dengan Kugy yang ternyata ada di dekat
pintu. Kugy masuk ke ruangan Remi, meletakkan pekerjaannya di meja. Mukanya lelah.
KUGY
Sori, udah lewat deadline.
REMI
Aku benci ngomong gini, Gy. Tapi aku masih atasan kamu.
Untuk itu aku harus berani bilang: kamu payah. Pastikan
ini keterlambatan kamu yang terakhir kali.
Kugy hanya bisa mengangguk, kecut.
INT. 110 RESTORAN HOTEL ‐ JAKARTA ‐ NIGHT 110
Di sebuah meja dengan suasana temaram, Kugy dan Keenan makan malam.
KUGY
So, Meneer Penuh Kejutan dan Rahasia, kenapa gerangan
kamu nraktir makan di tempat seniat ini?
KEENAN
Karena saya mau nanya pertanyaan super penting. Udah
siap belum jadi penulis profesional? Jenderal Pilik sudah
dapat penerbit.
Kugy yang sedang minum nyaris tersedak.
KUGY
What? Penerbit apa, dari mana, kapan, kok bisa?
KEENAN
Satu‐satu, Madam. Waktu saya di Bali, ada kolektor
lukisan saya dari Jakarta, namanya Pak Ginanjar, yang
ternyata owner‐nya Kala Publishing.
Keenan mengeluarkan laptop kecil dan membukanya.
KUGY
Kala? Itu kan penerbit gede?
KEENAN
Jadi, pulang dari Bandung waktu itu, saya langsung bikin
presentasi buat proyek kita. Dan kemarin saya
presentasiin ini ke Pak Ginanjar.
Keenan menunjukkan layar laptop‐nya. Terlihat slide Power Point: “Serial Jenderal Pilik
& Pasukan Alit ‐ Dongeng & Lukisan”.
67.
KUGY
Nan ... keren banget! Aku nggak nyangka kamu bikin
beginian!
KEENAN
Pak Ginanjar langsung tertarik. Dan nggak cuma nerbitin
buku. Waktu dia tahu saya punya sebagian ilustrasinya
dalam bentuk lukisan, dia nawarin bikin roadshow
pameran lukisan Pilik... dan juga bukunya.
KUGY
Ini lantainya keras nggak ya, Nan? Aku mau pingsaaan!
Keenan tertawa. Tiba‐tiba ia tersadar penanda baterai laptop‐nya berkedip kosong.
KEENAN
Yah. Charger‐nya di mobil. Bentar ya Gy, saya ambil dulu.
CUT TO:
111 INT. KORIDOR HOTEL ‐ JAKARTA ‐ LATER 111
Keenan berjalan terburu‐buru sambil mengecek kunci mobilnya. Dari arah berlawanan,
seseorang yang berjalan sama terburu‐burunya tahu‐tahu menubruknya.
KEENAN
Sori, sori, Mas ...
REMI
Sori, saya yang ... KEENAN?
KEENAN
Mas Remi?
REMI
Kamu di Jakarta?
KEENAN
Iya, Mas. Wah, long story. Saya ada family emergency.
Maaf banget nggak sempat ngabarin ke Mas Remi.
REMI
Pantesan ngilang. Kirain kamu berhenti ngelukis, atau lagi
bertapa.
KEENAN
Saya memang kepaksa break dulu.
REMI
Kita harus catch‐up, nih. Kamu di mana sekarang?
Keenan mengeluarkan kartu namanya dari dompet.
68.
REMI (CONT’D)
Kamu ... ngantor?
KEENAN
Perusahaan orang tua, Mas. Saya lagi bantu‐bantu di
sana. Panjang deh ceritanya. Mas Remi mau dinner juga?
Kebetulan saya lagi makan sama temen, kalau mau join ...
REMI
Nggak, saya cuma mau drop kerjaan bentar ke klien saya
di lobi, udah gitu jalan lagi. Ini juga ngedadak. Next time,
ya. Sekarang saya buru‐buru banget.
KEENAN
No problem. Kapan‐kapan janjian ketemu, ya.
Mereka pun berpisah.
CUT TO:
INT. RESTORAN HOTEL 112 ‐ JAKARTA ‐ LATER 112
Keenan sudah kembali ke mejanya bersama charger laptop.
KUGY
Asik! Pas udah mati nih. Aku masih belum selesai lihat
slide‐nya.
Mereka kembali menyimak laptop, tanpa Kugy tahu apa yang baru saja terjadi.
DISSOLVE TO:
113 EXT. MOBIL REMI ‐ JAKARTA ‐ DAY 113
Lewat earphone, Remi berbicara di telepon sambil mengemudi.
REMI
Keenan? Hai. Kebeneran saya bakal lewat jalan kantor
kamu, nih. Boleh drop‐by bentar? ... Oke, see you.
CUT TO:
114 INT. RUANGAN KANTOR KEENAN ‐ JAKARTA ‐ LATER 114
KEENAN
Oke, cukup cerita tentang saya dari tadi. Mas Remi sibuk
apa sekarang?
69.
REMI
Yah, kalau kerjaan sih kayak biasa. Di luar itu, saya sibuk ...
jatuh cinta.
KEENAN
Itu kesibukan yang menyenangkan.
REMI
Saya ketemu seseorang yang super unik. Nggak tahu deh,
somehow, agak ngingetin saya sama karakter kamu, sih.
Kayak kamu versi cewek. Tapi dia nggak ngelukis.
KEENAN
Ikut senang, Mas. Ada rencana seriuskah?
REMI
Hmm ... ada. Tapi dia belum tahu. Ah, udah ah, jadi curhat
lagi. Luhde apa kabar?
KEENAN
Baik‐baik, Mas. Pacaran jarak jauh sih, tapi sejauh ini
survive. Dia sangat spesial.
REMI
She is. Kalian pasangan favorit saya. Dari dulu.
KEENAN
Makasih, Mas. Kalau ada apa pun yang bisa saya bantu,
butuh pagar bagus, sekuriti, pawang hujan, apa pun,
please, jangan sungkan.
REMI
Kamu ngelukis lagi itu udah hadiah buat saya. Sukses ya
untuk lukisan‐lukisan barunya nanti. Mudah‐mudahan saya
kebagian.
KEENAN
Mungkin Mas Remi nganggap saya berlebihan, tapi saya
benar‐benar berutang budi sama Mas Remi. Gara‐gara
Mas beli lukisan saya pertama kali, saya bisa mulai
segalanya. Ngerasain jadi pelukis beneran.
REMI
Saya tuh cuma beruntung jadi orang yang pertama lihat.
Setelah itu? Saingan saya udah banyak banget.
Keenan tersenyum, menangkupkan kedua tangannya dan menunduk.
KEENAN
Makasih, Mas.
70.
Remi
Kapan sih kamu berhenti manggil “Mas”?
CUT TO:
INT. BANDARA 115 NGURAH RAI ‐ BALI ‐ DAY 115
Suasana di bandara hiruk‐pikuk. Rombongan kantor AdVocaDo berkumpul. Siska
membagikan KALUNG TANDA PENGENAL ke rekan‐rekan kerjanya. Tertera: “Gathering
AdVocaDo, Bali”. Siska memberikan satu kepada Remi.
SISKA
Kita semua ke hotel dulu, kan?
REMI
Kalian sih langsung aja. Habis itu mau pada langsung
shopping ke Sukowati, kan? Gue gabung sesudahnya aja
ya. Gue mau ke galeri langganan gue di Ubud sama Kugy.
SISKA
Remi. Lo kan pimpinan kita. Masa baru datang lo udah
misahin diri?
REMI
Ka. Come on. It’s just shopping.
Kugy datang dengan ceria, kamera tergantung di leher.
KUGY
Yuk! Aku udah siap!
Siska memandangi keduanya pergi dengan muka asam.
116 INT. MOBIL SEWAAN ‐ JALAN RAYA, BALI ‐ DAY 116
Mobil sudah memasuki Ubud. Tiba‐tiba Kugy melihat sesuatu di tepi jalan.
KUGY
Remi, setop dulu ...
Remi meminggirkan mobil.
KUGY (CONT’D)
Aku motret di pura itu, boleh?
REMI
Drop aja, ya? Aku ke galeri dulu. Entar kujemput lagi.
Kugy mengangguk mantap. Mobil melaju.
71.
Menenteng kamera DSLR‐nya, Kugy melihat‐lihat suasana di pura. Matanya tiba‐tiba
tertuju pada seorang perempuan Bali yang bersembahyang. Perempuan itu Luhde.
Spontan, Kugy membidiknya. Beberapa kali. Luhde pun tersadar.
KUGY
Sori. Saya nggak maksud ganggu. Cuma jalan‐jalan aja.
Hai, saya Kugy. Maaf ya, harusnya minta izin dulu.
LUHDE
Ndak apa‐apa. Saya Luhde.
CUT TO:
117 FLASHING SCENES 117
Di pura, Luhde berbicara dengan beberapa penduduk. Tak jauh dari sana, Kugy
memotret‐motret candid.
Di galeri, Remi bertemu dengan Pak Wayan yang menyambutnya gembira.
Di pura, Luhde berbincang akrab dengan Kugy. Setelah menyiapkan tripod, Kugy berfoto
bersama Luhde.
CUT TO:
118 I/E. PURA ‐ UBUD ‐ LATER 118
KUGY
Pengin dong baca tulisan kamu. Kita nanti tuker‐tukeran.
Aku selalu senang ketemu orang yang sama‐sama hobi
nulis.
LUHDE
Boleh. Tapi harus saya kirim pakai pos, soalnya saya tulis
tangan.
KUGY
Ha? Sama, dong! Aku juga senangnya gitu. Pegal tapi
puas! Aku tulisin alamatku, ya.
Kugy berjongkok, mengambil kertas dari tas lalu mencatatkan alamatnya. Luhde
mengamati catatan Kugy. Ia mengenali sesuatu: HURUF “K” yang khas.
KUGY (CONT’D)
Ini. kalau kamu ke Jakarta, harus main ke rumahku, ya.
Senang bisa kenalan sama Luhde. Makasih ya udah mau
difoto.
LUHDE
Saya yang sangat senang bisa kenal Kugy. Mimpi apa ya ...
72.
KUGY
(tertawa)
Ah. Nggak segitunya, kali.
LUHDE
Maaf saya harus ke dalam lagi.
KUGY
Oke! Sampai ketemu, ya!
Luhde tersenyum, kaku. Ia menunduk hormat. Sambil berbalik, Luhde membaca sekali
lagi catatan Kugy. Tangannya gemetar. Tidak salah lagi. Ia kenal tulisan itu.
DISSOLVE TO:
INT. RESTORAN TEPI PANTAI ‐ SEMINYAK, 119 BALI ‐ NIGHT 119
Kugy dan Remi baru selesai makan. Remi tampak gelisah, sesekali mengecek
kantongnya. Kugy asyik dengan kamera.
REMI
Gy... ada yang...
KUGY
Rem, aku mau lihatin dulu foto‐foto di
pura tadi, ya?
Remi pindah ke sebelah Kugy. Sementara Kugy menyiapkan kameranya, Remi
menyiapkan sesuatu di kantong celananya.
KUGY
Lihat, nih. Cantik, ya? Aku kenalan dengan dia di pura.
REMI
Itu kan Luhde.
KUGY
Kamu kenal?
REMI
Luhde itu keponakannya Pak Wayan, yang punya galeri
langgananku. Aku sering ke sana. Ada satu pelukis
favoritku yang dulu tinggal di rumah mereka. Nah, dia itu
pacarnya Luhde ini.
Kugy terdiam, mulai merunut. Ia teringat LUKISAN ANAK‐ANAK di AdVocaDo.
KUGY
Rem ... lukisan di kantor yang di depan ruangan kamu ...
itu siapa yang ngelukis?
REMI
Ya, itu dia orangnya. Keenan.
73.
Kugy FLASHBACK mengingat INISIAL “KK” di pojok lukisan itu. Objek anak‐anak.
KUGY
K‐Keenan? Kamu ... kenal dia?
REMI
Kenal banget. Keenan sih udah kayak temen. Dia di Jakarta
sekarang. Udah lama nggak ngelukis. Are you okay?
Kugy mengangguk. Berusaha mengendalikan diri. Tapi ia sudah tidak bisa konsentrasi.
KUGY
Mau cabut sekarang?
Remi menggeleng. Lalu dia berlutut.
REMI
Aku selalu inget kamu bilang: ombak itu suara alam paling
merdu. Jadi, rasanya nggak ada tempat yang lebih tepat
selain di sini dan sekarang. Gy ... pacaran sama kamu
barangkali adalah hal paling gila yang pernah aku lakuin.
Dan ini bakal jadi hal paling gila kedua.
Remi menyodorkan KOTAK CINCIN, membukanya. Kugy tercengang melihat CINCIN
BERLIAN di hadapannya.
REMI (CONT’D)
Aku nggak tahu momen ini namanya apa. Kamu nggak
harus jawab ‘iya’ atau ‘enggak’. Cincin ini cuma tanda
komitmenku, kalau aku serius sama kamu. Sama
hubungan ini.
Kugy hanya bengong. Kaku. Tidak menyambut cincin itu.
REMI (CONT’D)
Kupakaikan, ya?
Remi memasukkan cincin itu ke jari manis kiri Kugy. Kugy hanya bisa memaksakan
dirinya untuk tersenyum dan mengangguk.
DISSOLVE TO:
INT. RUANG BOARDING BANDARA NGURAH 120 RAI ‐ BALI ‐ AFTERNOON 120
Kugy melamun sambil sesekali memegang cincin baru di jarinya. Dari jauh, pandangan
Siska tahu‐tahu tertumbuk pada cincin itu, Siska hampir tak bisa menahan air matanya.
CUT TO:
74.
I/E. RUMAH KAREL 121 ‐ JAKARTA ‐ NIGHT 121
Karel membuka pintu. Ada Kugy dengan ranselnya. Mukanya kusut.
KUGY
Karel. Aku numpang ngungsi.
Kugy nyelonong masuk, sementara Karel terbengong‐bengong.
CUT TO:
122 EXT. LOTENG RUMAH KAREL ‐ JAKARTA ‐ AFTERNOON 122
Kugy duduk di kursi plastik di area jemuran. Menatap langit sore dengan tatapan
kosong. Di tangannya ada SCRAPBOOK yang pernah jadi kadonya untuk Keenan.
KAREL (O.S.)
Gy! Dari siang kok belum makan?
KUGY
Nggak laper!
CUT TO:
123 INT. KAFE ‐ JAKARTA ‐ DAY ‐ AFTERNOON 123
Keenan duduk sendirian di sebuah kafe. Tak lama muncul Noni.
NONI
Hai, Nan. Sori telat.
KEENAN
It’s OK.
NONI
Gue interview kerja di tiga tempat hari ini, belum sempet
break dari tadi. Phew. So, what’s up?
KEENAN
Lo inget gue pernah cerita proyek buku anak itu, kan? Nah.
Partner kerja gue ilang.
NONI
Dan ... lo nanya gue dan bukan orang rumahnya?
KEENAN
Kayaknya Kugy memang sengaja sembunyi, deh. Orang
rumahnya malah ngehindar gitu pas ditanya.
NONI
Bukannya elo dengan radar‐radaran elo berdua itu bisa
saling cek lokasi kayak GPS?
75.
KEENAN
Input data masih kurang nih, Non. Dan kayaknya lo bisa
bantu.
(jeda)
Eko pernah bilang, lo sama Kugy sempet lama ribut. Boleh
tahu kenapa?
NONI
Tadinya gue pikir dia memang berubah, udah nggak
nyambung aja. Puncaknya pas dia nggak datang ke ulang
tahun gue. Gue pikir, that’s it. Kugy udah keterlaluan. Tapi
ternyata ada sesuatu yang dia simpan dari gue, dari elo,
dari kita semua. Satu hari gue nggak sengaja nemuin
sesuatu, tulisannya Kugy ...
(jeda)
Nan, dia cinta sama lo. Kugy cinta mati sama lo. Dan
kalau ternyata perasaan dia masih sama kayak dulu, ya
jelaslah kembalinya lo ke Jakarta ngobrak‐ngabrik
semuanya. Cuma kan gue nggak tahu persis gimana elo
sama dia sekarang, atau gimana hubungan dia sama
Remi ...
KEENAN
Remi? Itu nama pacarnya Kugy?
NONI
Yang bosnya itu kan?
KEENAN
Remigius? Remigius Aditya?
NONI
Gue nggak tahu ada berapa Remigius Aditya di Jakarta.
Tapi ya benar itu namanya.
Tiba‐tiba Keenan berdiri, meninggalkan uang di meja, bergegas pergi.
KEENAN
Non, thank you datanya. Gue yang traktir, ya.
NONI
Lho! Lo kemana?
INT. RUANG MAKAN 124 RUMAH KAREL ‐ JAKARTA ‐ AFTERNOON 124
Karel menyeruput teh manisnya. Kugy hanya bengong menatap sepiring gorengan.
76.
KAREL
Udah dua hari kamu di sini. HP nggak dinyalain. Nggak
keluar rumah. Makan ogah‐ogahan. Kamu nggak lagi
diuber polisi, kan?
KUGY
Kakak udah keganggu ya aku di sini?
KAREL
Keganggu enggak, khawatir iya. Orang nggak bisa bantu
kamu kalau kamu nggak ngomong, Gy.
KUGY
Aku nggak pa‐pa, kok.
Kugy melamun lagi, sesekali mengusap cincin di jarinya. Karel mengamati.
KAREL
Kalau memang nggak siap, nggak usah dipaksain. Remi
juga pasti ngerti.
Pertahanan Kugy ambruk. Matanya mulai basah.
KUGY
Aku orang paling jahat, Kak. Ada laki‐laki sebaik dan
sesempurna Remi, yang sayang setulus‐tulusnya sama
aku. Tapi kenapa aku pernah nggak bisa ngerasain hal
yang sama kayak dia ke aku?
KAREL
Karena Keenan?
Kugy berhenti terisak, menatap Karel dengan kaget.
KAREL (CONT’D)
Dari dulu, tiap kali kamu cerita tentang teman kamu yang
namanya Keenan, mata kamu bercahaya, kamu begitu
hidup. Kayak nyawa kamu nambah dua. Remi teman
baikku, Gy. Waktu kamu dekat sama Remi, aku orang yang
paling senang. Tapi ... aku nggak nangkap cahaya yang
sama dengan yang kulihat tiap kamu cerita tentang
Keenan.
KUGY
Aku ketemu pacarnya Keenan di Bali, Kak. Dia baik banget.
Aku senang Keenan bisa dapet cewek sebaik dia. Mungkin
sama senangnya kayak Kakak lihat aku sama Remi. Tapi,
tetap aja ...
KAREL
Kamu tetap patah hati?
77.
KUGY
Nggak tahu, Kak ... aku nggak tahu lagi. Semua ini
ngebingungin. Dan cincin ini bikin tambah bingung. Aku
mau kabur aja, ke Timbuktu ... kayak Donal Bebek ...
KAREL
Kugy. Ini bukan dongeng. Ini yang namanya hidup.
Hadapin, berani jujur sama diri kamu, berani jujur sama
orang‐orang yang kamu sayangin. Nggak semua dongeng
bisa happy ending, Gy. Apalagi realitas.
Terdengar bunyi bel.
CUT TO:
INT. RUMAH KAREL 125 ‐ JAKARTA ‐ LATER 125
Karel membuka pintu.
KEENAN
Malam, Mas. Kugy ada?
CUT TO:
126 INT. LOTENG RUMAH KAREL ‐ JAKARTA ‐ LATER 126
Kugy dan Keenan duduk tanpa alas. Langit sudah senja.
KUGY
Percuma sembunyi dari kamu.
Kugy membuat Radar Neptunus di kepalanya. Tiba‐tiba Keenan menangkap tangan
Kugy, lalu mendekapkannya di dada. Ia pun menggeleng.
KEENAN
Udah nggak perlu lagi. Saya tahunya dari sini. Kugy
Karmachameleon, saya cinta, selalu cinta, dan terus akan
cinta sama kamu. Perasaan ini nggak ada ujungnya. Remi
itu manusia luar biasa. Kalian beruntung bisa dapatin satu
sama lain. Dijaga, ya.
KUGY
Aku ketemu satu perempuan di Ubud. Dia kayak malaikat.
Dan baru dari Remi aku tahu, ternyata itu Luhde. Aku jadi
tahu kalian semua saling kenal. Luhde yang nemenin
kamu selama di Ubud, kan?
(jeda)
Dan lukisan kamu ... berbulan‐bulan aku jatuh cinta sama
satu lukisan di kantor. Sumpah, aku nggak ngenalin kalau
itu lukisan kamu.
78.
(MORE)
Gaya melukis kamu beda banget begitu ngelukis Pilik. Aku
nggak nyangka kalau “KK” itu ternyata Keenan
Klappertartholland.
KEENAN
Bukan, Gy. Inisial itu artinya “Keenan dan Kugy”. Buat saya
itu karya kita berdua.
Mata Kugy mulai basah.
KEENAN (CONT’D)
Bisa berkarya bareng sama kamu udah cukup buatku.
KUGY
Buatku juga.
KEENAN
Kamu baik‐baik, ya. Nggak usah ngilang lagi. Dan nggak
ada rahasia lagi. Saya tahu, kamu tahu, hati ini tahu. Kita
memilih yang terbaik.
Keenan mengecup kening Kugy, lalu berjalan pergi. Kugy tahu‐tahu berdiri. Tangannya
terdekap di dada.
KUGY
Nan! Aku nggak mau ... sepuluh tahun lagi, dua puluh
tahun lagi, aku ngerasa sakit di sini tiap kali ingat kamu.
Gimana kita bisa ... ?
KEENAN
Kita pasti bisa, Gy.
KUGY
Kamu yakin?
Keenan menatap Kugy. Ragu. Namun ia mengangguk. Kugy pun ikut mengangguk,
berusaha tersenyum. Keenan mendekap Kugy erat sejenak, lalu berbalik pergi. Saat
Keenan sudah hilang dari pandangan, Kugy tak tahan lagi menahan isaknya.
DISSOLVE TO:
127 EXT. KALI KECIL ‐ JAKARTA ‐ DAY 127
PERAHU KERTAS dilarung oleh Kugy.
KUGY (V.O.)
“Aku pasrah, Nus. Seperti semua perahu kertas yang
selama ini aku larung. Dia nggak pernah tahu bakal
mengalir ke mana. Ke laut atau bukan. Nggak semua
cerita bisa happy ending, kan?”
79.
KUGY (CONT'D)
I/E. TERAS RUMAH KUGY 128 ‐ JAKARTA ‐ AFTERNOON 128
Kugy turun dari taksi, memasuki gerbang rumahnya. Di teras, sudah ada Remi. Meski
lunglai, Kugy masih bisa tersenyum.
KUGY
Buronan udah pulang. Aku dosa besar sama kamu.
REMI
Nggak. Aku yang salah. Kamu nggak siap, dan aku
maksain. Gy, nggak usah pakai cincin itu lagi kalau kamu
nggak mau ...
KUGY
Aku mau. Aku udah siap sekarang.
REMI
Aku pengin percaya, Gy. Tapi sekarang aku nggak tahu
gimana bisa yakin sama ucapan kamu. Sori.
KUGY
Remi, aku mau kasih sesuatu buat kamu. Ini nggak bisa
disamain dengan cincin yang kamu kasih, tapi buatku ini
sangat berharga.
Dari ranselnya, Kugy mengeluarkan SCRAPBOOK.
KUGY (CONT’D)
Harta karunku. Duniaku. Belum pernah kukasih ke siapasiapa.
Sekarang ini punya kamu. Aku mau berbagi duniaku
sama kamu.
Wajah Remi berangsur cerah. Ia menerima buku itu seraya memeluk Kugy.
CUT TO:
129 INT. RUMAH WAYAN ‐ UBUD ‐ DAY 129
Luhde sedang duduk melamun di bale saat Keenan tahu‐tahu muncul di belakangnya.
KEENAN
Luhde ...
LUHDE
Kapan datang? Kok, mendadak?
KEENAN
Jakarta‐Bali cuma satu setengah jam, De. Dan yang mau
saya bilang ini nggak bisa lewat telepon. Saya pengin
ketemu kamu.
(jeda)
Saya tahu kamu ketemu Kugy. Waktu dia bilang ada acara
di Bali, saya punya feeling dia bakal ketemu kamu. Saya
juga merasa sejak itu sikap kamu berubah.
80.
(MORE)
Kemarin malam akhirnya saya tahu. Saya udah bicara
sama Kugy, De.
LUHDE
Saya ngerti sekarang, kenapa Keenan bisa begitu
terinspirasi oleh Kugy. Dibanding dia, saya ndak ... saya
ndak akan bisa jadi seperti Kugy.
KEENAN
Luhde? Saya nggak butuh kamu jadi seperti dia. Saya
butuh kamu. Titik. Di sini tempat saya, De. Bersama kamu.
Hati saya sudah memilih.
Keenan mendekap Luhde. Meski tersenyum, Luhde terlihat bimbang.
CUT TO:
130 INT. RUANG TEVE APARTEMEN REMI ‐ JAKARTA ‐ NIGHT 130
Remi menerima SMS dari KUGY: “Bobo, gih. Jangan lupa baca dongeng sebelum tidur.
Dikasih buku dongeng tuh buat dibaca, tauk.” Remi tersenyum lalu mengambil
scrapbook Kugy dari meja, mematikan teve, mulai membaca. Terlihat SEUJUNG
KERTAS PUTIH mencuat keluar dari sampul belakang. Namun Remi tidak menyadarinya.
CUT TO:
INT. RUANGAN REMI ‐ ADVOCADO ‐ JAKARTA ‐ DAY
REMI
Telat lagi? Damn. Lama‐lama nih kantor beken gara‐gara
deadline karet. Malu‐maluin.
SISKA
Kerjaan kita baru macet begitu sampai ke satu orang.
Tunanganmu.
REMI
Gue memang ngasih dia cincin, Ka. Tapi kita nggak
tunangan.
SISKA
Tapi niat lo gitu, kan?
REMI
Dari pertama dia masuk kerja, gue nggak pernah ngelihat
sikap lo bersahabat sama dia. Sebetulnya lo ada masalah
apa sih sama Kugy?
81.
KEENAN (CONT'D)
SISKA
Selain kinerjanya yang jadi melempem? Selain isu
profesionalisme karena dia pacaran sama Bosnya sendiri
dan kita semua kena imbasnya? Belum cukup itu semua?
REMI
Belum. Gue yakin ada hal lain.
SISKA
Well, dia bikin gue tersadar ... kalau gue itu super tolol.
Siska berbalik pergi. Menyembunyikan matanya yang berkaca‐kaca.
REMI
Siska!
DISSOLVE TO:
131 INT. MEJA KERJA KUGY ‐ ADVOCADO ‐ NIGHT 131
Kantor sudah sepi. Tinggal Kugy sibuk bekerja sendirian. Kugy baru berhenti ketika
tersadar ada Remi berdiri di depan mejanya.
KUGY
Sejam lagi selesai. Janji. Pokoknya semua materi buat
presentasi udah siap besok pagi.
REMI
Kugy. Aku dikomplain hampir semua orang tentang kamu.
Tolong, kali ini, bantu aku supaya bisa bantu kamu. Tiap
kali ditanya kamu bilang nggak ada apa‐apa, padahal jelas
hati kamu udah nggak di sini. Ada apa, sih?
Kugy terdiam. Mengumpulkan keberanian untuk berterus terang.
KUGY
Aku nulis dongeng lagi. Aku mau bikin buku. Berkarya yang
serius. Tapi begitu aku total, aku rasanya jadi nggak
fungsional di sini. Satu‐satunya alasan aku masih kerja
hanya karena nggak enak sama kamu. Kamu selalu yakin
aku tuh prodigy kayak kamu. Dan aku nggak pengin
ngancurin harapan kamu. Aku memang bisa kerja di sini,
Rem. Tapi hanya bisa, bukan cinta. Ini bukan aku.
REMI
Bikin satu kantor panik gara‐gara kerjaan kamu keteteran
itu sangat buruk, Gy. Tapi nggak ada yang lebih buruk dari
bertahan kerja hanya karena kamu mau nyenengin orang
lain. Meski orang itu aku. Aku nggak bisa punya tim
dengan mental kayak gitu.
82.
KUGY
Sori, Remi ...
REMI
Kamu aku pecat.
Kugy terdiam. Matanya berkaca‐kaca.
REMI (CONT’D)
Besok adalah project terakhir kamu.
Kugy mengusap air matanya yang jatuh.
REMI (CONT’D)
Kalau nggak gitu, kamu nggak pernah bakalan tega
ninggalin kantor ini.
KUGY
(berbisik)
Makasih...
REMI
Udah cukup kamu bawa rezeki buat kantor ini. Gih, bagibagi
rezeki sama penerbit yang bakal nerbitin buku kamu.
Aku cukup jadi pacarmu aja. Nggak usah jadi Bos.
Kali ini Kugy tersenyum lebar. Begitu juga Remi.
132 FLASHING SCENES 132
Hubungan Kugy dan Remi kembali menghangat. Mereka makan malam bersama,
keduanya terlihat bahagia.
Keenan kerja di kantor seperti biasa. Malamnya, dia kembali melukis dengan giat.
Adri, yang sudah bisa berjalan dengan tongkat, melewati kamar Keenan yang setengah
terbuka, melihat anaknya tekun melukis.
Remi dan Kugy, di tempat tinggal masing‐masing, berbicara di telepon dengan hangat
dan mesra.
Adri menemukan Keenan sudah tertidur. Lampu masih menyala. Adri trenyuh melihat
anaknya. Lalu memadamkan lampu.
DISSOLVE TO:
133 INT. RUMAH WAYAN ‐ UBUD ‐ NIGHT 133
Di meja makan, Wayan memerhatikan Luhde yang tekun menulis sesuatu.
83.
WAYAN
Kamu betulan mau jadi penulis, ya?
LUHDE
Inggih, Poyan. Ini cerita anak‐anak. Nanti Keenan yang
bikinkan gambarnya.
Pak Wayan terdiam sejenak, seolah membaca sesuatu.
WAYAN
(Bhs Bali, subtitled)
Gek, Poyan mau bicara sebentar. Poyan ngerti kamu sudah
besar. Tapi, jatuh hatilah pelan‐pelan, jangan sekaligus.
Berat nanti.
LUHDE
(Bhs Bali, subtitled)
Maaf sebelumnya, Poyan. Heran saya kalau Poyan bicara
gitu. Lebih dua puluh tahun Poyan hidup sendiri karena
cinta sama satu perempuan.
WAYAN
Justru saya mau ingatkan kamu. Jangan sampai seperti
saya.
Tampak jelas Luhde terusik karena ucapan Wayan.
134 INT. KAMAR KEENAN ‐ JAKARTA ‐ NIGHT 134
Adri masuk dan duduk di sebelah Keenan yang sedang melukis.
KEENAN
Hai, Pa. Sori, ini dikit lagi ...
ADRI
Nggak pa‐pa, teruskan saja. Papa nggak mau ganggu.
Keenan menghentikan kegiatannya.
KEENAN
Bentar. Ini aneh. Papa nggak pernah nongkrongin saya
ngelukis.
ADRI
Papa cuma lagi ngebayangin apa rasanya hidup di dua
dunia. Kamu pernah bayangin, apa jadinya kalau ikan
dipaksa jadi amfibi? Waktu dia di air, dia bahagia. Waktu
dia di darat, dia sekarat.
84.
KEENAN
(Bhs Belanda, subtitled)
What is this, Papa?
ADRI
Kamu. Melukis itu airmu. Dan Papa terus maksa kamu
keluar dari situ.
KEENAN
Saya nggak mungkin bohong. Kerja di kantor Papa nggak
pernah jadi cita‐citaku. Tapi saya nggak merasa kepaksa.
Itu pilihan saya, kok.
ADRI
Dari kecil, kamu pasti heran: kenapa Papa sangat keras
menentang kamu melukis. Nggak pernah mudah buatku
melihat kamu jadi pelukis, Nan. Satu saat, kalau Papa
siap, Papa pasti cerita kenapa. Sekarang, cukup kamu
tahu, Papa ikhlas. Nggak ada yang bisa membendung
bakatmu, minatmu. Udah saatnya kamu kembali.
KEENAN
Kemana ... ?
ADRI
Ke dunia kamu. Di mana pun kamu mau meneruskan
karier melukismu. Di Bali, di sini, terserah kamu, Nak.
KEENAN
Tapi ... Papa...?
ADRI
Beberapa bulan lalu Papa cuma bisa nafas, Nan. Sekarang
... lihat Papa. Udahlah, jangan dipikirin, Papa bakal baikbaik
saja. Kantorku juga bakal baik‐baik saja. Sudah cukup
kamu berkorban, Nak. Kamu bebas sekarang.
Keenan terlongo. Sejenak kemudian ia menghambur memeluk ayahnya.
CUT TO:
INT. KAMAR KEENAN 135 ‐ JAKARTA ‐ DAY 135
Keenan mengepak barang‐barangnya ditemani Eko dan Noni.
KEENAN
Non, udah nggak usah repot ikut ngepak.
85.
EKO
Nan, manfaatkanlah skill Noni sebaik mungkin mumpung
dia di sini. Kalau lo mau bawa gajah ke Ubud pun, Noni
pasti bisa ngepaknya masuk koper.
NONI
Bener kata Eko, Nan. Manfaatkanlah kami berdua sepuaspuasnya.
Entar pas kita mau honeymoon ke Ubud, gantian
kita yang ngerepotin elo dan Luhde.
KEENAN
Selama nggak dorong Fuad, gue rela direpotin apa aja.
Ubud banyak tanjakan, man.
Mereka tertawa, kecuali Eko. Dia teringat sesuatu.
EKO
Kapan ya Pura‐Pura Ninja bisa kumpul lagi? Termasuk Si
Bandar Perahu Kertas?
NONI
Kalian udah baik‐baik aja kan, Nan?
KEENAN
Butuh waktu. Tapi, gue yakin, gue dan Kugy bakal baikbaik
aja, kok. Kita semua bisa balik lagi kayak dulu.
Noni dan Eko diam‐diam berpandangan. Sangsi.
INT. GALERI WAYAN 136 ‐ UBUD ‐ AFTERNOON 136
Pak Wayan sedang menurunkan sebuah lukisan Keenan yang berjudul FREEDOM.
WAYAN
De, bisa bantu gulung? Keenan minta tolong lukisan ini
dikirim ke temannya di Jakarta.
Saat bantu menggulung, Luhde tiba‐tiba terusik ketika membaca tulisan “Freedom” di
bagian belakang kanvas.
LUHDE
Poyan ... saya ndak mau jadi seperti Poyan. Apa ndak
kasihan sama hati Poyan sendiri? Disiksa seperti itu
berpuluh‐puluh tahun. Kenapa Poyan bertahan? Kenapa
Poyan ndak pernah mau cari perempuan lain yang bisa
mengganti meme‐nya Keenan?
Pak Wayan mencerna kalimat Luhde. Antara getir dan sedih.
WAYAN
Karena Poyan ndak tahu caranya melepas, De.
86.
Luhde tersadar. Ia kelihatan merasa bersalah.
LUHDE
Maaf, Poyan. Lancang sekali saya bicara gitu.
WAYAN
De, hati itu dipilih. Bukan memilih. Bertahan atau
melepas, cuma hatimu yang tahu.
Luhde mengangguk samar, meneruskan kegiatannya, meski sambil menahan tangis.
DISSOLVE TO:
INT. KAMAR 137 KUGY ‐ JAKARTA ‐ DAY 137
Kugy membuka inbox surelnya. Ada e‐mail dari Keenan berjudul: Freedom.
KEENAN (V.O)
“Hai, Gy. Sori baru bisa ngabarin lewat e‐mail. Saya udah
nggak ngantor lagi. Mulai minggu ini Papa udah balik
kerja.”
INTERCHANGE WITH:
138 FLASHING SCENES 138
Adri, dengan tongkat, kembali bekerja di kantornya. Ia tampak bugar dan bersemangat.
KEENAN (V.O.)
“Saya pamit ke Ubud dulu, ya. Proyek kita jalan terus. Saya
cuma minta waktu untuk break sebentar. Nantinya,
mungkin saya nggak di Jakarta. Mudah‐mudahan kamu
nggak keberatan kita kerja dari jauh.
Keenan di dalam mobil, menuju Ubud. Penuh pengharapan.
KEENAN (V.O.)
“Saya berdoa segalanya yang terbaik untuk kamu dan
Remi. Doain saya dan Luhde juga, ya.”
Kugy menerima kiriman paket di rumahnya.
KEENAN (V.O.)
“Ada kenang‐kenangan kecil yang saya kirim buat kamu.
Semoga suka.”
Kugy membuka paketnya. Sebuah silinder berisi lukisan dari Keenan. Lukisan FREEDOM.
DISSOLVE TO:
87.
139 I/E. RUMAH WAYAN ‐ UBUD ‐ DAY 139
Pintu dibuka. Wajah Wayan cerah melihat Keenan. Mereka berpelukan.
WAYAN
Akhirnya kamu pulang ke rumahmu! Hei, tapi, Luhde
masih di Kintamani. Mungkin baru besok kemari.
KEENAN
Nggak pa‐pa, Pak. Saya kan mau jadi penghuni tetap di
sini. Bisa nunggu tenang‐tenang.
Air muka Wayan berubah drastis melihat kemunculan Lena.
LENA
Hai, Wayan.
CUT TO:
140 INT. RUMAH WAYAN ‐ UBUD ‐ LATER 140
LENA
Aku memang sengaja ikut antar Keenan. Selama ini aku
belum pernah baik‐baik permisi untuk Keenan
menumpang di sini.
WAYAN
Ndak perlu itu, Lena. Rumah keluarga kami terbuka untuk
Keenan setiap saat.
LENA
Adri titip salam. Dia berterima kasih sekaligus minta maaf
nggak bisa ngantar ke sini.
WAYAN
Saya senang dengar kondisinya sudah hampir pulih. Salam
lagi untuk Adri.
Keduanya tampak canggung dan kehabisan basa‐basi.
LENA
Kalau gitu aku permisi dulu. Titip Keenan, ya.
WAYAN
Lena ...
Lena yang sudah berbalik badan seketika berhenti.
WAYAN (CONT’D)
Ndak tahu kapan saya bisa ketemu kamu lagi. Tolong
dengarkan saja.
88.
(MORE)
Walau bukan anak kandung, Keenan adalah cinta paling
indah yang pernah saya alami setelah kamu. Karena dia,
saya belajar memaafkan semua orang, termasuk diri saya
sendiri.Terima kasih. Kamu, Adri, sudah kasih kesempatan
saya dekat dengan dia.
LENA
Wayan ... aku nggak pernah punya kesempatan minta
maaf sama kamu ...
WAYAN
Saya ngerti. Semua sudah saya relakan. Apa pun yang kita
lalui dulu, sedetik pun ndak saya sesali.
LENA
Waktu itu keputusanku bukan karena aku memilih Adri,
tapi karena aku nggak mungkin mengorbankan Keenan ...
WAYAN
Saya senang kamu memilih mempertahankan
kandunganmu. Saya juga senang kamu dan Adri terus
bertahan sampai sekarang.
(jeda)
Pasti bukan kebetulan Keenan mewarisi bakat melukismu.
Lewat melukis, saya dan dia jadi terhubung. Dan lewat
Keenan, aku dan kamu selamanya terhubung. Cukup
buatku.
Lena mengangguk. Wayan tersenyum, mengangguk hormat, dan berlalu. Mata Lena
berkaca‐kaca.
CUT TO:
141 INT. KAMAR TIDUR APARTEMEN REMI ‐ JAKARTA ‐ NIGHT 141
Remi masih bertemankan scrapbook Kugy. Ia lalu menyambar HP, mengetik SMS:
“Dongengnya seru banget. Udah tidur? Miss you.” Ia menelepon Kugy sambil membolakbalik
buku tersebut. Telepon Remi bersambung ke voicemail. Seujung kertas putih
mencuat keluar dan menarik perhatiannya. Remi membaca:
KUGY (V.O.)
“Hari ini aku bermimpi. Aku bermimpi menuliskan buku
dongeng pertamaku. Sejak kamu membuatkanku gambargambar
ini, aku merasa mimpiku semakin dekat. Hari ini
aku juga bermimpi. Aku bermimpi selamanya bisa
menulis dongeng. Aku bermimpi bisa berbagi dunia itu
bersama ilustrasimu. Bersama kamu, aku tidak takut lagi
jadi pemimpi.
89.
WAYAN (CONT’D)
(MORE)
Karena hanya bersama kamu, segalanya terasa dekat,
segala sesuatunya ada, segala sesuatunya benar. Dan
Bumi hanyalah sebutir debu di bawah telapak kaki kita.
Selamat Ulang Tahun.”
Remi terkesiap. Ia sadar, buku itu tidak pernah ditujukan baginya.
CUT TO:
INT. KANTOR 142 ADVOCADO ‐ JKT ‐ DAY 142
Siska mengamati Remi yang murung. Saat Remi masuk ruangannya, Siska ikut masuk
dan menutup pintu.
SISKA
Remi. Are you OK?
REMI
Enggak. But thanks for your concern. Dan, mumpung kamu
di sini ...
SISKA
Aku minta maaf.
REMI
Gue mau minta maaf.
SISKA
Aku yang salah. Aku terlalu neken kamu selama ini. Begitu
udah nyangkut kamu, aku memang susah objektif, Rem.
Mungkin karena kita udah kelamaan berteman ... atau ...
REMI
Lo bener kok, Ka. Gue yang buta. Gue mau cabut duluan,
ya. Gue perlu nenangin diri dulu.
SISKA
Remi ...
Remi, yang sudah di pintu, berbalik.
SISKA (CONT’D)
I’m always here.
REMI
Aku tahu.
Remi tersenyum dan pergi dari kantor.
143 INT. RUMAH WAYAN ‐ UBUD ‐ AFTERNOON 143
Keenan tersentak ketika melihat Luhde masuk ke rumah.
90.
KUGY (V.O.) (CONT'D)
KEENAN
Luhde ... hai ... kamu nggak terima pesanku? Saya nyampe
dari dua hari yang lalu..
LUHDE
Iya, saya tahu. Tapi acara keluarga di Kintamani ndak bisa
saya tinggal.
KEENAN
De, saya nggak perlu pulang ke Jakarta lagi. Saya udah
bisa netap di Ubud sekarang.
Luhde tak bereaksi. Keenan mulai merasa ada yang aneh.
KEENAN (CONT’D)
Kamu ... baik‐baik?
Luhde tampak mengumpulkan keberanian.
LUHDE
Saya perlu tahu: kenapa Keenan mau di sini bersama
saya?
KEENAN
Ya karena saya sayang sama kamu. Saya memilih kamu.
Memilih kita.
Luhde menghela napas, tersenyum getir.
LUHDE
Keenan, saya bakal pulang lagi ke Kintamani. Saya ke
Ubud cuma karena mau mengembalikan ini.
Luhde menyerahkan PAHATAN HATI yang dulu diberikan Keenan.
KEENAN
Itu udah buat kamu! Ada apa sih, De?
LUHDE
... bahkan bukan nama saya yang Keenan ukir. Tapi, terima
kasih, Keenan sudah pernah meminjamkan.
KEENAN
kalau ternyata ini tentang Kugy, saya udah tahu kamu
ketemu dia. Semuanya udah saya bicarain sama Kugy. Kita
udah sama‐sama mutusin. Saya milih di sini. Sama kamu.
91.
LUHDE
Dari seseorang, saya belajar: hati itu ndak milih. Jadi,
kalau Keenan bersama saya karena Keenan yang pilih,
selamanya kamu ndak akan tulus. Hati itu dipilih. Yang
Keenan cari bukan di sini.
Luhde meletakkan pahatan itu ke genggaman Keenan.
LUHDE (CONT’D)
Saya ndak mau selamanya cuma jadi bayang‐bayang.
Kali ini Keenan pasrah, menerima pahatan itu. Tak bisa berkata‐kata.
LUHDE (CONT’D)
Saya pamit pulang dulu.
Luhde membungkuk hormat dan berbalik pergi. Keenan terdiam di tempatnya, sebutir
air mata mengalir.
DISSOLVE TO:
INT. 144 RUANG MAKAN KUGY ‐ JAKARTA ‐ MORNING 144
Seluruh keluarga Kugy berkumpul dan sarapan bersama: Kugy, AYAH dan IBUNYA,
KEVIN, KARIN, KESHIA. Tak lama, Karel muncul bergabung.
AYAH KUGY
Wah. Bujangan kita datang juga!
Karel memeluk kedua orang tuanya.
KAREL
Abis, tadi Mama telepon, kayaknya ada perayaan apa gitu.
IBU KUGY
Cuma pengin sarapan bareng aja semua, kayak dulu.
Kamu kan udah nggak tinggal di sini, nanti adikmu juga
nyusul keluar dari rumah. Mama kangen aja.
Semua orang langsung cekikikan. Kecuali Kugy.
KUGY
Siapa yang mau keluar dari rumah?
KARIN
Yang jelas bukan gue, meskipun umur udah memenuhi
syarat, ye. Tapi, kan, gue nggak ada yang ngelamar.
KUGY
Ngarang.
92.
KEVIN
Oh, jadi kalau orang ke pameran wedding itu gara‐gara
mau beli henpon, ya?
Kugy langsung mendelik ke adik bungsunya, KESHIA.
KUGY
Keshia! Dasar ember bocor. Eh, sodara‐sodara, Remi itu
ngajak aku ke pameran wedding hari ini karena sekalian
mau nemuin kliennya di sana, tauk!
KARIN
Iya, kan, sekalian namanya juga. Nggak pa‐pa kok, Gy. Gue
ikhlas. Yang penting hadiah ngelangkahinnya setimpal.
Birkin Bag Hermes, misalnya.
IBU KUGY
Gy, kalau nanti mau pakai kebaya, Mama punya kenalan,
Bu Sugito, aduh, cuantiiik kebayanya! Nggak mahal lagi.
AYAH KUGY
Yang penting, nggak usah pesta berlebihan. Uangnya
ditabung. Kalian pasangan muda, banyak yang harus
disiapkan.
KUGY
Ini ... kenapa, sih? Norak deh semuanya ...
HP Kugy tahu‐tahu berbunyi. Remi menelepon. Sementara keluarganya sibuk berdiskusi,
Kugy menyingkir.
KUGY (CONT’D)
Hai, Rem ... iya, nih, masih ngumpul. Abis aku dikerjain
gara‐gara pada tahu kita mau ke pameran wedding. Lho ...
kenapa? ... Di mana? ... Kok, mendadak? ... OK, no
problem, nanti aku ke sana ... Aku bisa kok bawa mobil
sendiri ... See you.
Kugy menutup telepon, penuh tanda tanya.
CUT TO:
EXT. PANTAI 145 ANCOL ‐ JAKARTA ‐ DAY 145
Di ayunan dekat cottage tempat mereka dulu jadian, Remi sudah duduk menunggu.
Kugy menghampirinya, masih dengan muka bingung.
REMI
Sori jadi ngerepotin kamu.
93.
KUGY
It’s OK. Kenapa harus ketemu di sini, tapi?
Remi tak menjawab, ia malah mendudukkan Kugy di ayunan. Sementara Remi berlutut
di depannya.
REMI
Setahun lebih, ya, aku kenal kamu. Rasanya kayak baru
kemarin.
KUGY
Kamu masih belum jawab.
REMI
Aku mau ngembaliin ini.
Remi menyerahkan sebuah kantong kertas, Kugy mengambil isinya: SCRAPBOOK yang
dihadiahkannya pada Remi.
KUGY
Kok ... dibalikin?
REMI
Karena buku itu sebetulnya bukan dikasih untukku.
Remi menyerahkan selembar amplop. Ada nama “KEENAN” di tertera. Kugy terkesiap.
KUGY
Remi, itu salahku. Dulu banget aku memang pernah mau
kasih buku itu ke sahabatku, Keenan, yang ternyata ...
REMI
Iya, aku udah tahu. Aku ngerti sekarang, Gy.
KUGY
Sori. Aku nggak pernah tahu gimana harus ngejelasin ke
kamu. Tapi buatku semua itu udah selesai ...
REMI
Selama ini aku selalu merasa ada yang menghalangi hati
kamu, tapi aku nggak pernah tahu apa. Entah aku yang
memilih untuk nggak mau tahu. Aku buta.
KUGY
Remi. Sekarang semuanya udah beda.
REMI
Boleh aku tanya? Pernah nggak Keenan minta dikasih buku
ini sama kamu?
Kugy menggeleng.
94.
REMI (CONT’D)
Pernah nggak kamu minta dikasih cincin ini sama aku?
Kugy menggeleng lagi.
REMI (CONT’D)
Itu dia, Gy. Carilah orang yang mau ngasih segala‐galanya
sama kamu tanpa perlu kamu minta apa‐apa.
KUGY
Buatku, orang itu kamu! Kamu selalu ngasih semuanya
tanpa pernah aku minta ...
REMI
Kamu mungkin udah ketemu. Aku yang belum, Gy. Tidak di
hubungan ini. Kalau kita paksa terus, akhirnya kita samasama
sakit.
KUGY
(mulai menangis)
Aku sayang kamu, Remi.
Remi mengecup kening Kugy.
REMI
Aku juga. Makanya aku melepas kamu sekarang. kalau
enggak, selamanya kamu cuma berusaha ngebahagiain
aku. Tapi hati kamu nggak di sini. Baik‐baik ya, Gy.
Remi melangkah pergi. Kugy terpaku di tempatnya. Ketika Remi menjauh, Kugy
mendekap buku itu, dan menangis pilu.
DISSOLVE TO:
EXT. HALAMAN RUMAH KEENAN 146 ‐ JAKARTA ‐ EARLY MORNING 146
Keenan memasukkan perlengkapan ke bagasi mobilnya: sleeping bag, cooler box, dan
sebagainya. Terakhir, ia melemparkan RANSEL “K” ke jok depan. Mulai mengemudi.
Penuh semangat.
CUT TO:
147 EXT. RANCA BUAYA ‐ JAWA BARAT ‐ EARLY MORNING 147
Kugy berdiri menghadap pantai, tampak ia baru bermalam di sana. Barang‐barangnya
masih berserakan. Mobilnya terparkir.
KUGY
Udah tiga hari. Entar malam tahun baru. Kita ngapain lagi,
ya? Ada ide?
95.
Kugy menoleh ke arah bawah. Ternyata ia sedang berbicara dengan ranselnya.
KUGY (CONT’D)
Mau pulang aja? Oke.
CUT TO:
148 EXT. FLASHING SCENES 148
Mobil Keenan di jalan raya, tampak pemandangan gunung dan sawah. Jalan yang sudah
pernah ia lalui.
Di pesisir Ranca Buaya, Kugy berjalan menenteng ranselnya. Memilih tempat makan
siang.
Mobil Keenan melewati petunjuk jalan: “Ranca Buaya”.
Kugy mengemudikan mobilnya, meninggalkan Ranca Buaya.
CUT TO:
149 EXT. TEBING ‐ RANCA BUAYA ‐ SUNSET 149
Mobil Keenan terparkir. Di samping ranselnya, Keenan berbaring di atas rumput. Tahutahu
ada benda jatuh di samping kepalanya: ransel “K”.
KUGY
Ini makin nggak lucu. Kok, kamu bisa ke sini juga?
Keenan terduduk, kaget.
KEENAN
Waktu itu kan kamu tidur di jalan. Kok bisa nyampe sini?
Kugy mengeluarkan lipatan peta dari kantong belakangnya.
KUGY
Ada teknologi baru namanya PETA. F‐Y‐I, asuku udah tiga
hari camping di sini, tauk. Tadi juga udah pulang, tapi balik
lagi ... aku ada yang kelupaan. Belum ngelepas ... ini.
Kugy menunjukkan perahu kertasnya.
KUGY (CONT’D)
Tapi lautnya udah keburu pasang.
KEENAN
Saya nggak percaya. Kamu balik lagi soalnya kita memang
harus ketemu di sini.
96.
Keenan lantas membuat Radar Neptunus di kepala, menatap Kugy dengan tatapan
“Hellooo?”. Kugy menghela napas panjang, menahan haru.
KUGY
Selamat bertemu lagi, Rekan Agen.
Mereka bersalaman. Tertawa. Lalu sama‐sama berbaring. Bersisian. Menatap langit
senja yang kian indah. Sayup terdengar mereka bercakap.
KEENAN
Kirim surat apa sih ke Neptunus?
KUGY
Ada deh. Pokoknya nggak ada hubungannya sama kamu.
KEENAN
Nggak percaya.
EXT. RANCA 160 BUAYA ‐ SUNSET 160
Kembali ke Kugy hari ini, yang berada di atas perahu, yang masih membuat Radar
Neptunus di kepalanya sambil memejamkan mata.
KUGY
Ya. Di sini aja, Pak.
Nelayan itu mematikan mesin perahunya.
CUT TO:
161 EXT. RANCA BUAYA ‐ LATER 161
PERAHU KERTAS menari sendirian, dimainkan ombak di tengah laut. Ditinggalkan oleh
perahu.
KUGY (V.O.)
Nus, ini surat terakhirku. Makanya aku bela‐belain
nganterin sampai ke laut.
Dalam perahu, Kugy duduk menghadap arah pantai, senyumnya mengembang cerah.
Seolah tak sabar ingin segera tiba. Ia lalu menatap CINCIN emas polos yang melingkar
di jari manis kanannya, menggenggamnya. Senyumnya mengembang cerah.
KUGY (V.O.)
Aku pensiun ya jadi agen. Aku janji, akan selalu kutulis
dongeng bagi semua yang membutuhkan. Dongengku
sendiri sudah jadi kenyataan.
Kugy tiba di pantai. Seseorang sudah menunggunya: Keenan.
97.
KUGY (V.O.)
Salam kelautan. Tertanda: Agen rahasiamu yang nggak
rahasia‐rahasia amat ...
Keenan menyambut Kugy dengan hangat. Kugy mengecup Keenan. Mesra, mereka
berjalan berangkulan. Dari tangan mereka yang saling menggenggam, terlihat Keenan
memakai CINCIN yang serupa.
KUGY (V.O)
Kugy dan Keenan.
FADE OUT.
98.